TAN HU CIN JIN

TAN HU CIN JIN

TAN HU CIN JIN CHEN FU ZHEN REN Hanya ada…

TAN HU CIN JIN

CHEN FU ZHEN REN

Hanya ada dua sumber tertulis yang mengisahkan kehidupan Chen Fu Zhen Ren, sementara sumber-sumber lain tidak ditulis melainkan diturunkan secara lisan. 

SUMBER PERTAMA :

Sumber pertama adalah biografi singkat yang tertuang dalam prasasti pendirian Klenteng Liong Coan Bio di Probolinggo. 

SUMBER KEDUA :

Sumber kedua berasal dari dokumen Melayu yang disimpan di KITLV, Leiden, Belanda. 

Dokumen tersebut berhasil disalin oleh seorang cucu dari pengurus Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi ( nama penyalin tidak berhasil diidentifikasikan ) pada tahun 1880 saat ia berada di Buleleng, Bali.

Prasasti di Probolinggo menuliskan asal-usul dia sebagai berikut:

ASAL GUANG DONG :

Keluarga Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren datang dari Chao Zhou, propinsi Guang Dong. 

Saat ia masih anak-anak, ia anak yang rajin, berbakti pada ibunya bersama dengan kedua kakak laki-lakinya; ia taat aturan, tahu sopan santun, dan seorang pengrajin yang berbakat. 

MEMBANGUN ISTANA DI BALI :

Ia membangun sebuah istana di Bali dan hidup kekal di pelabuhan Blambangan.

Tulisan Melayu mengisahkan perjalanan hidup Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren saat dia masih sebagai manusia hingga legenda yang terjadi setelah dia meninggalkan dunia. 

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren adalah kakak tertua dan memiliki dua adik pria yang datang ke Indonesia bersama-sama. 

KAPTEN KAPAL :

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren menjadi kapten dari kapal bertiang satu (Perahu Sloop). 

Pada suatu ketika mereka mengadakan perjalanan dari Batavia menuju Bali, tetapi perahu mereka nahas di Selat Bali. 

TERDAMPAR DI SELAT BALI & JADI DEWA DI WATU DODOL :

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren terdampar di pantai Blambangan, 

adik keduanya hilang di laut dan

adik ketiga terdampar di pantai Bali. 

Umat Klenteng Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren meyakini bahwa adik kedua dia menjadi Dewa di Pantai Watu Dodol dan disebut Ji Kongco (Kakek Buyut Kedua) sementara yang ketiga menjadi harimau dan disebut Sa Kongco (Kakek Buyut Ketiga). 

Itulah sebabnya masyarakat setempat, terutama suku Fujian ( Hokkian ), percaya bahwa harimau tidak akan memangsa mereka yang telah dianggap sebagai cucu-cucunya.

MENETAP DI BLAMBANGAN :

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren kemudian menuju Kerajaan Blambangan. 

Dituliskan bahwa ketika itulah mulai baharu ada orang Tiongkok di negeri Blambangan, yang menurut C. Salmon dan Mira Sidharta diartikan bahwa pada waktu itu orang Tionghoa baru saja mulai menetap di kerajaan Blambangan. 

( Menurut Babad Blambangan yang ditulis oleh Raden Haryo Notodiningrat dan Ottolander, 1915, masyarakat Tionghoa mulai menetap di Blambangan pada tahun 1631 ). 

Meskipun tulisan Melayu tidak menyebutkan kapan hal tersebut terjadi, tetapi disebutkan bahwa pada saat itu Kerajaan Blambangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi. 

Hal tersebut menjadi dasar bagi kedua peneliti untuk menyimpulkan bahwa kedatangan Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren di Blambangan terjadi setelah tahun 1729, yaitu setelah Kerajaan Buleleng dikalahkan Kerajaan Mengwi.

DITERIMA RAJA BLAMBANGAN :

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren diterima oleh Raja Blambangan yang kemudian memerintahkannya membangun sebuah istana di Macanputih ( kini berada di wilayah Probolinggo ). 

ISTANA SEMPURNA :

Dikisahkan bahwa istananya begitu sempurna sehingga kabar bahwa Raja Blambangan memiliki arsitek berbakat sampai ke telinga Raja Mengwi. 

DI UTUS KE KERAJAAN MENGWI :

Pada saat itu, 

Raja Mengwi hendak mengadakan sebuah pesta besar serta membangun istana baru, sehingga Raja Blambangan mengutus Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren ke Mengwi. 

Awalnya Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren menolak karena mengetahui bahwa ia akan dikhianati, tetapi Raja Blambangan terus memaksa bahkan bersumpah bahwa jika Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren mengalami musibah di sana, Kerajaan Blambangan tidak akan diberkahi selama beberapa generasi. 

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren akhirnya berangkat ke Mengwi dan segera membangun istana baru.

Saat istana selesai baru separuh, para pegawai istana datang menghadap Raja Mengwi dan berkata bahwa raja percuma menyewa si pemahat Tionghoa karena pekerjaannya sangat mudah sementara upahnya mahal. 

Masyarakat Bali sendiri mampu melakukan pekerjaan yang sama dan upahnya tidak semahal itu. 

Raja Mengwi bingung karena telanjur berjanji akan membayar upahnya, apalagi ia telah memanggilnya dari tempat yang jauh. 

DI KHIANATI :

Para pegawai istana menganjurkan raja untuk membunuhnya karena Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren hanya seorang diri (sebatang kara). 

Raja Mengwi kemudian mengutus dua orang dari kasta Brahmana untuk membunuhnya.

Kedua orang ajudan raja mengundang Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren ke pantai untuk menikmati hiburan. 

Sesampai di pantai, mereka bingung dan terdiam karena menyadari bahwa korban mereka sebenarnya tidak bersalah. 

Tan Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren menyuruh mereka untuk melaksanakan perintah raja. 

Namun, karena dirinya tidak bersalah, pembunuhan tersebut akan menjadi peringatan bahwa tidak lama lagi Kerajaan Mengwi dan Blambangan akan hancur. 

Kedua ajudan tersebut ketakutan dan memohon maaf, selain mereka juga tidak sanggup membunuh Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren.

Keduanya tidak berniat kembali, sebab raja pasti akan membunuh mereka karena gagal melaksanakan perintahnya. 

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren mengajak keduanya ke Blambangan.

MELINTASI LAUT :

Dalam kisah, Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren dikatakan berjalan kaki melintasi laut. 

Kedua sandalnya digunakan kedua ajudannya untuk mengambang. 

Sesampai di pantai Blambangan, mereka naik ke puncak Gunung Sembulungan dan moksa ( menghilang ) di sana.

40 - 50 TAHUN KEMUDIAN :

40-50 tahun kemudian, dikatakan bahwa saat itu banyak sekali orang Tionghoa yang menetap di Blambangan dan empat perkampungan Tionghoa terbentuk di :

1. Banyualit

2. Kedaleman

3. Lateng 

4. Kesatrian

Kisah Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren kembali muncul. 

Peneliti C. Salmon dan Mira Sidharta meyakini bahwa kisah ini terjadi tidak sampai 50 tahun kemudian, sebab menurut perkiraan mereka,

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren tiba di Blambangan setelah tahun 1729 (setelah Mengwi menguasai Blambangan) dan tahun kehancuran Blambangan ( berdasarkan tulisan ini ) adalah pada tahun 1765. 

BUDAK :

Pada masa itu ( Abad XVII ), terdapat lalu lintas budak yang penting antara Bali dan Batavia, termasuk lalu lintas perbudakan terpenting di Asia.

Suatu hari datang perahu layar besar dari Badung menuju Batavia membawa 60-70 orang budak laki-laki dan perempuan, besar dan kecil, sangat sederhana dan rendahan, semuanya diikat dengan rantai besi dari leher hingga kaki mereka. 

SEMBULUNGAN :

Pada saat perahu tersebut sampai di seberang Gunung Sembulungan, seolah-olah perahu layar tersebut telah meninggalkan tempat itu untuk satu siang dan satu malam, dan memiliki angin yang baik dan memiliki kekuatan yang bagus, tetapi tiba-tiba pada pagi harinya perahu itu kembali lagi ke tempat yang sama. 

Hal tersebut terjadi hampir sebulan sehingga perbekalan hampir habis dan orang-orang di dalam perahu ketakutan ( khawatir bahwa ) hidup mereka akan berakhir. 

Di antara budak yang berasal dari kasta Ksatria, yang mana telah dijual dan tangan, kaki, serta lehernya terikat oleh rantai besi, tiba-tiba salah satunya terbebas meskipun kuncinya masih terkunci. 

Ia mengalami trance, menari-nari dan berbicara kepada kapten kapal dalam bahasa Tionghoa:

"Hey Kapten, kau seharusnya tahu bahwa aku adalah Kongco dengan nama Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren. 

Aku tinggal di puncak Gunung Sembulungan. Bawa aku ke wilayah Blambangan, sehingga aku dapat tinggal di sana selamanya."

Pria itu kemudian melompat ke laut dan berjalan dengan hati-hati di atas ombak, sementara kapten kapal mengikuti dengan sampan. 

Setelah si Ksatria sampai di puncak Gunung Sembulungan, ia menjadi sadar dan menemukan tiga patung: satu besar dan dua kecil. 

Keduanya kemudian membawa tiga patung tersebut ke Pelabuhan Banyualit.

Di Banyualit, 

Kapten kapal mengumpulkan warga Tionghoa di sana, dan si Ksatria kembali kesurupan. 

Ia berbicara dalam bahasa Tionghoa tentang kisah hidupnya di Macanputih dan Mengwi, bagaimana kedua pembunuhnya kini menjadi dua ajudannya untuk selamanya. 

Kalian para orang Tionghoa di Blambangan, biarlah hal tersebut diketahui ...(kata tidak dapat diidentifikasikan) ada tiga orang lelaki bersaudara, yang di tengah hidup di Watu Dodol, yang termuda menjadi seekor harimau, dan hidup di dalam hutan Blambangan dan Bali. 

Aku tidak berniat untuk pindah dari sini, sehingga aku tahu apa yang akan terjadi di wilayah Blambangan dan Mengwi; aku ingin memuaskan hatiku dan menikmati hasil dari Blambangan dan Bali.

Warga Tionghoa menyambut Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren dan membangun sebuah Klenteng di Lateng. 

Namun, 

setelah Blambangan diserang Belanda pada Tahun 1765, 

pusat kerajaan dipindahkan di Kota Banyuwangi sekarang (sebelumnya berada di sekitar Muncar). 

Warga Tionghoa ikut bermigrasi dan memindahkan lokasi Klenteng Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren ke Klenteng Ho Tong Bio / Hu Tang Miao yang sekarang.

Penulis Aku menambahkan bahwa pada Tahun 1880 hanya terdapat tiga Klenteng Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren di Jawa, yaitu di Banyuwangi, Besuki, dan Probolinggo. 

Sementara di Bali terdapat dua Klenteng, yaitu di Buleleng dan Badung. Selain itu, tiap-tiap rumah orang Tionghoa di Tabanan, Mengwi, Bangli, Gianyar, Klungkung, Karang Asem, dan Sasak juga memiliki altar pribadi untuk Tan Hu Cin Jin /Chen Fu Zhen Ren. 

Tiap tahunnya, penjaga Klenteng Banyuwangi berkeliling di Bali untuk mengadakan Festival Sembahyang Rebutan. 

Penulis Aku menyatakan:

"Saya memperoleh penjelasan ini dari orang tua saya ...wangi, dari kakek saya dan ... (nama tidak dapat diidentifikasikan) adalah para penjaga kuil Kongco."

Keterangan: kata ...wangi yang tidak terbaca, kini secara umum dianggap di Banyuwangi.

DEWA :

Tan Hu Cin Jin / Chen Fu Zhen Ren banyak dipuja & dihormati sebagai :

* Dewa Pengobatan

* Dewa Perdagangan

* Dewa Pelayaran