JI LAY HUD = SAKYAMUNI / GAUTAMA
BUKAN
MI LEK HUD = MAITREYA
Mi Le Fo adalah sosok yang paling sering di salah-pahami.
Banyak orang Tionghoa menyebut Mi Le Fo dengan sebutan Ji Lai Hud dalam dialek Hokkian.
Begitu melihat figur Buddha Gendut yang Tertawa-tawa – orang langsung menyebut ‘Ji Lai Hud ! ‘.
Sebutan ini tidaklah benar.
Ji Lai Hud dalam Dialek Hokkian adalah Ru Lai Fo – dan Ru lai Fo tidak lain adalah Buddha Sakyamuni / Buddha Gautama !
Ji Lai Hud bukanlah
Mi Le Fo !!!
Mi Le Fo dalam Dialek Hokkian adalah Bi Lek Hud !!!
Penampilannya-pun sering sekali menimbulkan salah paham dan salah tafsir.
Seorang pernah mengeluh dan mengatakan bahwa menggambarkan seorang Buddha sebagai satu figur yang Gendut dan Tertawa-tawa adalah suatu bentuk pelecehan dalam menggambarkan seorang Buddha.
Seorang Buddha haruslah digambarkan sebagai satu figur yang berwajah serius, dengan mata setengah terpejam, duduk bersila dalam posisi meditasi – menyungging satu senyuman misterius yang menyiratkan Kebijaksanaan Tertinggi.
Seorang Barat juga bilang :
‘ Why is Buddha portrayed to be so enormously fat ? ‘ .
Ia pun bertanya-tanya dengan sedih :
‘ Kenapa Buddha digambarkan begitu Gendut ? ‘.
Jawaban yang datang dari seorang Barat lain justru membingungkan karena ia mengatakan bahwa ‘ Mi Le Fo must be the Santa Claus Buddha !!! ‘.
Mi Le Fo malahan dianggap sebagai seorang Santa Klaus Buddha karena bertubuh tinggi besar, gendut, selalu tertawa, selalu membawa karung dan senang bermain dengan anak-anak – persis seperti Santa klaus !!!
Santa Klaus Buddha ???
Mi Le Fo / Bi Lek Hud atau Miroku dalam Bahasa Jepang adalah personifikasi dari Maitreya – Sang Buddha Masa Depan – seperti yang digambarkan oleh Tiongkok.
Yang menjadi model acuan adalah seorang Bhiksu yang bertubuh tinggi besar, ber-perut gendut buncit menonjol ke depan, wajah bulat – selalu gembira dan tertawa lebar dan senang bermain dengan anak-anak kecil.
Dia adalah Bhiksu Bu Dai / Pu Tai. Hotei dalam Bahasa Jepang.
Bhiksu ini adalah seorang figur sejarah yang sungguh pernah hidup di Tiongkok pada masa Dinasti Tang ( 618 - 907 Masehi ).
Bhiksu Bu Dai dalam kesehariannya memang sangat memperhatikan anak-anak kecil.
Senang bermain dengan mereka – dan anak-anak pun sangat menyayangi dan mencintainya.
Bhiksu ini juga selalu mengenakan jubah besar yang kedodoran hingga perutnya yang gendut buncit menonjol ke depan.
Selalu tertawa gembira – membawa tongkat dan kantong kain besar.
Karena itu, ia sering mendapat julukan Bu Dai He Xang – artinya Bhikksu yang membawa Kantong Kain Besar.
Lambat laun, nama aslinya Chik Che – pun dilupakan orang.
Selanjutnya ia dikenal sebagai Bhiksu Bu Dai.
Di samping senang bermain dengan anak-anak kecil, Bhiksu Bu Dai juga selalu membantu para petani – berada di tengah mereka dan membantu mereka mengatasi masalah - masalah yang mereka hadapi.
Konon Bhiksu yang satu ini dikenal sakti mandraguna.
Dan terkadang beliau menunjukkan kesaktiannya untuk membantu petani menyelesaikan masalah mereka dengan cepat dan untuk menyenangkan hati anak-anak kecil yang hampir selalu berada di dekatnya.
Anak-anak kecil – makhluk yang polos dan lugu – menjadi idola Bhiksu Bu Dai. Dan ia tidak sendiri .
Kesadaran Murni harus didahului oleh Pikiran Murni – pikiran yang Lugu, Polos – bagaikan pikiran seorang anak kecil !!!
Ketika telah tiba saatnya Bhiksu Bu Dai harus meninggalkan dunia ini ( terjadi pada Tahun 916 Masehi ).
Ia meninggalkan sebuah Sanjak, sebuah Puisi kecil yang ditulisnya di sudut Biara Yek Lin di Tiongkok.
Penggalan dari Sanjak yang ditulisnya itu berbunyi demikian :
Maitreya
Oh . . . .
Maitreya
Menjelma dalam Sejuta Rupa,
Senantiasa datang mengunjungi Dunia ,
Manusia sendiri tidak mengenalinya.
Maitreya telah datang ke Dunia,
Namun manusia tak mengenalinya.
Demikian ditulis oleh Bhiksu Bu Dai di Biara Yek Lin pada saat meninggalnya.
Umat Buddha Tiongkok kemudian meyakini bahwa Bhiksu Bu Dai tak lain adalah perwujudan dari Maitreya.
Sejak saat itulah, orang Tionghoa menggambarkan wujud Maitreya – Sang Buddha Masa depan – sesuai penampilan fisik Bhiksu Bu Dai ini.
Dan demikianlah kisah lahirlah – Mi Le Fo – Buddha Gendut yang Gembira yang khas Tiongkok ini.
Dalam Buddhisme Zen, Mi Le Fo bahkan menjadi Lambang Tingkat Pencerahan yang Tertinggi.
Ia muncul dalam Gambar ke Sepuluh – Gambar paling Akhir – dalam Ilustrasi Sepuluh Tingkat Peningkatan Kesadaran Manusia yang berakhir pada Pencerahan Tertinggi pada Gambar ke Sepuluh.
Di situlah dimunculkan figur Mi Le Fo oleh Kuo An Shih Yuan ( dikenal di Jepang sebagai Kakuan Shien ) – seorang Master Zen Tiongkok dari Abad ke 12.
Mi Le Fo sebagai Lambang Pencerahan Tertinggi.
Tetapi bagi Anand Krishna – seorang Guru Besar Spiritual keturunan India – penggambaran Mi Le Fo sebagai Lambang Pencerahan ini sudah sangat jelas.
Dalam salah satu bukunya yang berjudul ‘Zen untuk Orang Modern’ – Anand Krishna menulis :
Gambar ke Sepuluh adalah gambar Terakhir.
Setelah pikiran dikendalikan, setelah kesunyataan tercapai, setelah keheningan diperoleh.
Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.
Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai Kesadaran Murni, tidak digambarkan sebagai seorang ulama yang berparas muka serius.
Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Guru Agung adalah pribadi-pribadi yang murah senyum.
Apabila sedang ketawa, ia akan tertawa sepenuhnya, terbahak-bahak.
Budaya Tionghoa memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah.
Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirwana digambarkannya sebagai Mi Le , atau Maitreya – sahabat Alam Semesta.
Ia berbadan besar.
Perutnya buncit, keluar.
Perut buncit ini sangat bermakna – yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian.
Ketawa kita pun seringkali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.
Budaya Tiongkok bertemu Budaya India :
Konsep Taoisme bertemu Buddhisme.
Makna perwujudan Mi Le Fo merupakan suatu sinkrentisme antara Ideal Taoisme dan Buddhisme : suatu sinkrentisme penggambaran
‘Seorang Bijak’ dalam Taoisme dan penggambaran
‘Seorang Pencapai Pencerahan’ dalam Buddhisme.
Buddhisme Zen yang ketika masuk ke Tiongkok mengalami pergulatan dengan Taoisme dan Konfusianisme – tak pelak telah menyerap berbagai unsur dalam Taoisme dan Konfusianisme.
Dari Taoisme terserap unsur penekanan pada Kesederhanaan dan Harmoni dengan Alam.
Dari Konfusianisme terserap unsur pragmatisme : pendekatan terhadap kehidupan yang bersifat sangat membumi. Menghadapi hidup dengan praktis.
Perwujudan Mi Le Fo :
Penggambaran wujud fisik Bhiksu Bu Dai yang berwajah bulat, tinggi besar berperut buncit, selalu tertawa lebar dengan gerak-gerik yang serba polos kekanakan – menjadi suatu penggambaran ideal ‘Seorang Bijak’ dalam Taoisme.
Para Bijak amat polos dan sederhana.
Itu sebabnya, Dunia ini
menganggap mereka bodoh.
Dari perilakunya – yang muncul dari kepolosan hati –
Ia terlihat dan terdengar
seperti anak kecil.
To Te Keng / Tao Te Ching / Dao De Jing : 49
Karena itulah – dalam menggambarkan Maitreya – Sang Buddha Masa Depan – Tiongkok kemudian memunculkan wujud fisik Bhiksu Bu Dai sebagai perwujudan yang khas guna mengakomodasi nuansa Taoisme dan Buddhisme.
Lahirlah kemudian – seperti yang sekarang kita saksikan :
Mi Le Fo – Sang Buddha Gendut yang Gembira !

