TAN TEK SIOE SIAN

TAN TEK SIOE SIAN

TAN TEK SIOE SIAN Tan Tek Sioe ( Tan Tek…

TAN TEK SIOE SIAN

Tan Tek Sioe ( Tan Tek Sioe Sian, lahir 1884 ) adalah sosok legendaris peranakan Tionghoa-Jawa asal Surabaya yang dikenal sebagai sastrawan, ahli pengobatan, dan tokoh spiritual/pendekar. 

PENDEKAR PAPAK

Ia populer dengan sebutan "Pendekar Papak" karena jari-jarinya yang rata, dan dikenal luas atas kontribusinya dalam sastra serta kepedulian sosial, sering dijuluki Rama Moerti.

Tan Tek Sioe Latar Lahir di Surabaya pada 1884, ia adalah peranakan Tionghoa yang fasih bahasa Melayu, Jawa ( termasuk aksaranya ), Tionghoa, dan Inggris.

OTODIDAK

Ia belajar secara otodidak dan dikenal memiliki ilmu sastra, filsafat, serta kemampuan pengobatan yang dihormati.

Ia dijuluki Pendekar Papak karena keunikan fisik, di mana jari-jarinya memiliki panjang yang rata.

GOA PERTAPAAN

Salah satu tempat pertapaannya yang kini menjadi tempat wisata religi terletak di lereng Gunung Wilis, Desa Sendang, Tulungagung, yang dikenal sebagai Goa Tan Tek Sioe.

Tan Tek Sioe dihormati oleh pengikutnya sebagai sosok spiritual yang bijaksana dan ia wafat di Penang, Malaysia.

RAMA MOERTI

Tan Tek Sioe / Chen De Xiu ( 陈 德 修 Indonesia: Rama Moerti ) adalah sastrawan, ahli pengobatan, dan seseorang berilmu tinggi semasa hidupnya. 

Dia kini dipuja oleh berbagai kalangan, baik oleh warga Tionghoa maupun penganut kepercayaan Kejawen.

Dia tidak bisa makan daging semenjak kecil dan hidup suci melajang sepanjang hidupnya.

LAHIR

Tan Tek Sioe / Chen De Xiu lahir pada hari Jumat jam 12 siang tanggal 

Cap Ji Gwe Cap Si àtau 11 Januari 1884 atau 12 Mulud 1813 tahun Saka di Surabaya. 

Ia lahir pada hari Jumat tepat tengah hari, saat itu langit gerimis.

Malam harinya, langit cerah dan bulan bersinar dengan gemilang. 

Ia adalah putera Tan Liong To dari istri keduanya yang keturunanJawa. 

Meskipun berlainan ibu, Tan Tek Siu dengan 11 saudara-saudarinya yang lain sangat rapat hubungannya dan hidup rukun.

Tan Liong To menamai puteranya Tan Tek Sioe.

* Tek memiliki arti moralitas, kebajikan

* Sioe memiliki arti memperbaiki, mendirikan, melatih.

* Jadi, Tek Sioe memiliki arti bertapa membersihkan hati demi kebajikan moral.

VEGETARIAN SEJAK KECIL

Semenjak kecil, Tan Tek Sioe / Chen De Xiu tidak bisa makan daging dan akan dimuntahkan kembali jika dipaksa oleh ibunya. 

Ia tidak mau makan makanan yang berjiwa atau nasi, tetapi hanya sayur mayur dan buah-buahan atau singkong. 

Biasanya di kala anak-anak sedang bermain-main, Tan Tek Siu tidak mau ikut serta, hanya melihat saja sebagai penonton kecil.

MASA REMAJA

Saat ia berusia sembilan tahun, ibunya meninggal. 

Pada salah satu bait syair yang ditulis oleh Tan Tek Sioe di dalam Kitab resep obat yang dicetak di percetakan Sie Dhian Ho & Sons Solo pada tahun 1921, pada halaman 133 alinea 4 berbunyi sebagai berikut:

" Tiga harilah ! - tjoema setali.

Terkadang hadang. - soenyi sepeser.

Terlaloe soesa - menanggoeng diri; 

Iboe dan Papa kez'daman achir"

Ia menceritakan kehidupannya semasa kecil yang berkekurangan, tidak memiliki uang untuk membeli apa yang disukai, dan sudah kehilangan orang tua di usia yang teramat muda. 

BELAJAR DI THHK SURABAYA

Sesudah kematian orang tuanya, Tan Tek Siu tinggal di rumah kakaknya dan sempat mengenyam pendidikan di Tiong Hwa Hwee Kwan dan bekerja hingga usia 18 tahun di Kota Surabaya.

Tak Tek Siu mempunyai rupang / kimsin Kwan Im Posat saat berada di rumah kakak kandungnya, Tan Tek Liang, di Kota Surabaya. 

HU KWAN IM

Kalau ada orang minta obat, ia akan membuat Hu yang disembahyangkan kepada Kwan Im Posat kemudian diberikan kepada si peminta obat.

PINDAH KE TULUNGAGUNG

Saat pertama kali pindah ke kota Tulungagung, Tan Tek Siu menumpang di pabrik minyak kacang milik Tho Lian Hiang. 

Pada tahun 1916, dalam salah satu suratnya, ia mengatakan pada waktu itu ia masih dalam keadaan berantakan. 

Pada akhir tahun 1916, ia sering terlihat mengenakan baju dan celana panjang putih serta beristirahat di dekat Goa Selomangleng di daerah Kilisuci Kabupaten Kediri. 

Waktu itu, ia juga sering pergi ke Gunung Klotok Kediri.

Pada tahun 1917 dan 1918, Tan Tek Siu masih belum mempunyai gua-gua pertapaan baik di lereng Gunung Wilis maupun di Sumberagung, Rejotangan, Tulungagung. 

AMAL

Namun, namanya telah banyak dikenal penduduk Jawa Tengah karena ia banyak berbuat amal dan suka menyembuhkan orang-orang yang sakit tanpa memungut biaya sepeserpun. 

Ia tidak membedakan yang kaya dan yang miskin, pribumi atau bukan, keluarga atau orang lain. 

MAHIR BERBAGAI BAHASA

Ia juga mahir berbahasa China, Melayu, dan Inggris serta ilmu bela diri dengan keinginannya sendiri, karena ia tidak mengenyam pendidikan hingga tinggi. 

Setiap perayaan Cap Go Meh, biasanya di Tulungagung diadakan pawai barongsai dan liong. Tan Tek Sioe ikut serta berperan sebagai Sun Go Kong sambil mempertunjukkan kemahiran bersilat dengan menggunakan senjata Kim Kong Pang ("Pentung Kim Kong"). 

Terkadang ia juga berperan sebagai Boe Siong ( Wu Song ).

SUMBER AIR

Rakyat setempat mengisahkan bahwa Kampung Sumber Agung menempati wilayah yang pada awalnya adalah rawa-rawa ( Danau Remang ) seluas 50 hektare lebih. Tan Tek Sioe / Chen De Xiu menutup sumber air utama yang mengairi danau tersebut sehingga menjadi kering. 

Konon dia menyumbatnya hanya menggunakan seputung rokok yang ia ciptakannya dari sebatang ranting kering. 

Kini wilayah rawa-rawa yang kering berubah menjadi beberapa desa dan kawasan persawahan. 

Nama Desa Sumber Agung sendiri merupakan pengingat atas kejadian tersebut, di mana Sumber memiliki arti Mata Air dan Agung memiliki arti Besar. 

Sering kali pula di halaman gua rumahnya diadakan pertunjukan Barongsai dan Jaranan.

MENUJU SINGAPURA

Tan Tek Siu pindah menuju Singapura kemudian Penang, Malaysia. 

Ia dipercaya menempati lokasi Gua One Hundred Bat Cave.

Gua pertapaan Tan Tek Sioe di pulau Penang tersusun atas batu-batu besar. 

Di sana, ia banyak dikunjungi orang yang datang minta kesembuhan. 

Ia menyembuhkan orang dengan sesuka hati, asalkan percaya kepadanya. 

Saat ada orang datang membawakan buah apel, buah apel itu akan diberikan kepada seorang pengunjung yang lain dan disuruh makan supaya sembuh dari penyakitnya. 

Ada pula pasien lain yang hanya disuruh minum air saja supaya sembuh.

Suatu ketika, batu hitam bulat dengan bagian dalam putih, disebut Tan, yang selalu dibawa oleh Tan Tek Siu pecah menjadi dua bagian. 

Hal tersebut menjadi firasat bahwa akhir hayatnya segera tiba. 

Ia juga bermimpi utusan Dewi Kwan Im untuk menjemputnya. 

Ia meninggalkan pesan-pesan kepada dua keponakan yang mengurusnya, kemudian menulis berbagai catatan wasiat di dalam sebuah buku yang berisi nama-nama orang yang akan beri barang-barang peninggalannya, kemudian berpesan agar di samping klentengnya didirkan sebuah pagoda. 

Pada suatu siang, pada tahun 1929, seorang tua datang di klenteng dan bersembahyang di sana. 

Selesai bersembahyang, seperti biasanya ia masuk ke gua pertapaan untuk menemui Tan Tek Siu, tetapi ia telah wafat. Tan Tek Siu wafat saat berusia 45 tahun.

Jenasah Tan Tek Sioe tidak berubah dan tidak berbau meskipun telah seminggu wafat. 

DIKREMASI

Ia diperabukan dengan ritual pemakaman umat Hindu di daerah setempat, sesuai dengan pesan sebelum kematiannya. 

Sesuai pesannya, perabuannya tidak boleh menyisakan tulang yang utuh sehingga membutuhkan waktu selama 17 hari. 

Setelah datang surat dari kakak kandung Tan Tek Sioe untuk meminta sebagian abunya sebagai kenang-kenangan, barulah seluruh tulang melebur menjadi abu sehingga tidak semuanya telanjur dilarung ke laut.

ALTAR TAN TEK SIOE SIAN

Oleh kepercayaan Budaya Tionghoa beliau diabadikan menjadi altar pemujaan di beberapa klenteng di Jawa. Antara lain:

* Klenteng Hong Tiek Hian, Surabaya, Jawa Timur

* TITD Hong San Koo Tee di Surabaya, Jawa Timur

* Kelenteng Kwan Im Bio Bogor, Jawa Barat

* Sanggar Pamujaan Adem Hatie Temanggung, Jawa Tengah

* Kelenteng Ma Co Po Jakarta.