TIONG CIU PIA
Persembahyangan Pe Gwe Cap Go adalah ritual ibadah orang Tionghoa ( khususnya umat Tridharma: Buddha, Khong Hu Cu Tao, ) yang dilaksanakan pada tanggal 15 bulan ke-8 ( Pe Gwe ) dalam kalender Im Yang Lek / Lunisolar Calender.
Secara harfiah dalam dialek Hokkien:
Pe Gwe ( 八 月 ) = Bulan ke 8
Cap Go ( 十 五 ) = Tanggal 15 ( puncak bulan purnama ).
MAKNA dan KARAKTERISTIK
Ritual meskipun sembahyang Cap Go dilakukan rutin setiap bulan pada saat bulan purnama,
Pe Gwe Cap Go ( Tanggal 15 Bulan 8, Im Yang Lek ) memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena bertepatan dengan salah satu hari raya besar dalam budaya Tionghoa yaitu Hari Raya Pertengahan Musim Gugur ( Mid-Autumn Festival / Zhong Qiu Jie ), atau yang di Indonesia populer dengan sebutan Sembahyang Kue Bulan ( Mooncake Festival ).
TU DI GONG / TO TE KONG /
TU TI PAKUNG
Penghormatan kepada Dewa Bumi ( Tu Di Gong / To Te Kong / Tu Ti Pakung ) pada pertengahan bulan ke-8, masyarakat Tionghoa kuno ( yang mayoritas agraris ) merayakan masa panen raya.
Sembahyang ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam atas hasil bumi dan kelimpahan rezeki yang diberikan oleh alam semesta.
SEMBAHYANG KEPADA
TIAN dan SINBENG / SHENMING + POSAT
Umat datang ke wihara / klenteng atau altar rumah untuk memohon berkah kesehatan, kedudukan, keharmonisan, serta perlindungan diri agar emosi tetap stabil di bawah pengaruh kuat energi bulan purnama.
WUJUD BAKTI LELUHUR
Selain kepada para dewa, momen purnama ini juga dimanfaatkan untuk melakukan penghormatan dan persembahan di meja abu leluhur keluarga sebagai bentuk tanda bakti ( Hauw / Xiao ).
SAJIAN KHAS
Sajian Khas Kue Bulan ( Tiong Ciu Pia )
Ciri khas utama dari persembahyangan Pe Gwe Cap Go adalah adanya sajian Kue Bulan ( Tiong Ciu Pia ) di atas altar sebagai simbol kebulatan, keutuhan, dan keharmonisan keluarga.
Sembahyang rutin Cap Go sendiri dipercaya sebagai waktu di mana pintu keberkahan dan energi semesta sedang terbuka lebar, sehingga umat dianjurkan menjaga batin tetap bersih, melakukan kebajikan, serta menenangkan pikiran.
Tiong Ciu Pia atau yang lebih dikenal sebagai kue bulan ( Yue Bing ) adalah penganan tradisional Tionghoa yang berasal dari kebiasaan ritual kuno untuk memuja Dewi Rembulan dan bersyukur atas hasil panen pada perayaan Pertengahan Musim Gugur ( Mid-Autumn Festival ) sejak lebih dari 3.000 tahun lalu.
Tiong: Tengah
Ciu: Musim Gugur
Pia: Kue
Di Indonesia sendiri, masyarakat Tionghoa sering menyebutnya dengan dialek Hokkian yaitu Tiong Ciu Pia atau Gwe Pia.
DINASTI SHANG dan ZHOU
Masa Dinasti Shang dan Zhou ( 1600–771 SM ) tradisi persembahan kepada Dewi Rembulan ( Tai Yin Xing Jun ) dan rasa syukur hasil panen dilakukan oleh para raja dan masyarakat agraris pada malam bulan purnama tanggal 15 bulan ke-8 penanggalan ImYang Lek.
DINASTI TANG
Masa Dinasti Tang ( 618 – 907 M ): Perayaan ini mulai resmi dirayakan di istana dan meluas ke masyarakat umum.
DINASTI YUAN / MONGOL
Masa Akhir Dinasti Yuan ( 1271 – 1368 M ). Kue bulan populer dalam catatan sejarah sebagai media penunjang pemberontakan rakyat di bawah pimpinan Zhu Yuan Zhang terhadap kekuasaan Mongol.
Pesan rahasia tentang jadwal pemberontakan diselipkan di dalam kue bulan untuk dibagikan kepada para pejuang.
MASA DINASTI MING dan QING
Tradisi menyantap dan saling mengirim kue bulan berubah menjadi simbol keutuhan keluarga, persatuan, serta doa panjang umur yang terus dilestarikan hingga kini.
LEGENDA CHANG-E
Legenda Populer Asal-usul kue bulan juga lekat dengan legenda Chang'e, seorang dewi yang terpaksa meminum ramuan keabadian agar tidak jatuh ke tangan orang jahat.
Ramuan tersebut membuatnya terbang dan tinggal seorang diri di istana bulan.
PE GWE CAP GO
Bertepatan dengan Pe Gwe Cap Go tersebut juga diperingati sebagai Hari Kesempurnaan Dewa Hok Tek Ceng Sing / Fu De Zheng Sen ( Dewa Pertanian / Pertanahan / Perdagangan ).
Lalu setelah itu, umat Tridharma juga bersiap siap menyambut Perayaan Pe Gwe Ji Cit ( Tanggal 27 Bulan 8, Im Yang Lek ) yaitu Hari Kelahiran - Sejid Guru Agung Khong Hu Cu / Kongzi.
admin

