MAKNA dan SIMBOL DALAM TRIDHARMA

Makna dan symbol seperti Swastika, Tai Chi, Bok Tok, Teratai,…

A. SWASTIKA

Simbol Swastika Keberuntungan dan Kebajikan.

Kata swastika berasal dari bahasa Sanskerta svastika, yang berarti kesejahteraan atau keberuntungan.

Simbol ini sering diasosiasikan dengan tanda keberuntungan pada jejak kaki Hyang Buddha Sakyamuni (Buddhapada).

Swastika merepresentasikan sifat dharma yang kekal, siklus kehidupan tanpa batas, serta pencerahan.

Simbol ini sering ditemukan pada bagian dada, telapak kaki, atau Rupang Buddha, serta pada pola pakaian dalam tradisi Buddha Tibet.

B. TAI CHI/ TAI KEK

Melambangkan kesatuan mutlak (Tao) atau keseluruhan alam semesta yang tak terbatas dan utuh.

Bagian Hitam ( Yin ): Melambangkan sisi pasif, gelap, dingin, lembut, malam hari, dan prinsip feminin.

Bagian Putih ( Yang ): Melambangkan sisi aktif, terang, panas, keras, siang hari, dan prinsip maskulin.

Garis Melengkung Seperti Huruf "S": Menunjukkan bahwa batas antara Yin dan Yang tidak kaku, melainkan mengalir, dinamis, serta saling menyeimbangkan secara terus-menerus.

Titik Kecil di masing-masing Sisi ( Titik hitam di area putih dan titik putih di area hitam): Mengandung makna bahwa di dalam unsur Yin terdapat benih Yang, dan sebaliknya.

Tidak ada hal di dunia ini yang murni mutlak; setiap sisi selalu mengandung potensi atau unsur dari lawannya.

C. BOKTOK / MUDUO ( GENTA ROHANI )

Bok Tok / Muduo ( Genta Rohani ) ditengahnya ada tulisan

Zhong dan Shu ( Tiong Si ) , 忠 dan 恕 artinya  Satya dan Tepasalira/Tenggang Rasa

 忠 恕 之 道:  Zong shu Ve Dao

Jalan setia dan toleransi pengertian tepaselira, ada 5 :

1. 君 臣 cuin chen = hubungan raja dan pejabat

2. 父 妻 fuqi, = hubingan suami dan istri

3. 父 子 fu ze = hubungan ayah dan anak anak

4. 昆 中 khuen cung =  hubungan saudara

5. 朋 友 pheng yu.= hubungan pertemanan /  sahabat

Nabi Kongzi / Khong Hu Cu mengajarkan Jalan Suci yang satu tetapi dapat menembusi semuanya ( Yi Guan Zhi Dao 一 贯 之 道 ).

"Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan kepada orang lain"

己 所 不 欲 勿 施 于 人                                                     己 所 不 欲,勿 施 于 人

 Jǐ Suǒ Bù Yù, Wù Shī Yú Rén                                        Ci suo pu yi  Wu se yi ren

Segala sesuatu yang kau tidak inginkan,

Jangan lakukan pada orang lain,

Tidak mau dihina jangan hina orang,

Tidak mau ditipu jangan menipu

己 欲 立 而 立 人                己 欲 达 而 达 人

Qi Yi Li  Er Li Ren                                Qi Yi Da Er Da Ren

Sendiri ingin berdiri tegak dan dia juga inginkan orang lain berdiri tegak.

Sendiri ingin sukses dan  Ingin juga orang lain sukses.

D. LIAN HUA / PADMA / TERATAI

Bunga teratai ( sering disebut lotus / padma / lian hoa ) melambangkan kemurnian spiritual, ketahanan, dan pencerahan.

Bunga ini menggambarkan perjalanan hidup manusia yang mampu bangkit dari kekotoran duniawi menuju kebersihan batin.

Filosofi Pertumbuhan Teratai Akar di dalam lumpur. Menggambarkan kehidupan duniawi yang penuh dengan penderitaan, hasrat, dan kebodohan.

Batang di dalam air:  Menggambarkan proses perjuangan dan latihan spiritual untuk membersihkan diri.

Bunga di atas permukaan air yang mekar bersih: Menggambarkan pencapaian pencerahan atau nirwana yang suci dan tidak tercemar oleh lingkungan sekitar.

Makna Berdasarkan Warna Putih: Melambangkan kemurnian mental dan kesucian spiritual yang tertinggi.

Merah: Melambangkan cinta kasih universal dan welas asih kepada sesama makhluk.

Biru: Melambangkan kemenangan roh atas indra, serta simbol kebijaksanaan dan pengetahuan.

Merah Muda: Merupakan warna paling suci yang diasosiasikan langsung dengan Hang Buddha Sakyamuni.

E. RODA CAKRA

Simbol roda cakra atau Dharma Cakra ( Roda Dharma ) dalam adalah lambang suci yang berarti pemutaran roda ajaran ( Dharma ) dan hukum sebab-akibat.

Berikut adalah arti bagian-bagian penting pada simbol Dharma Cakra:

Bentuk Roda yang Berputar: Melambangkan bahwa Dharma terus berjalan, menyebar, dan kehidupan terus berputar seperti roda kendaraan.

Delapan Jari-jari Roda: Melambangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Hasta Ariya Marga ) atau Delapan Jalan Utama yang menjadi panduan hidup benar untuk mencapai pencerahan dan Nirwana.

Lingkaran ( Pusat Roda ):

Menyimbolkan ajaran moral dan disiplin yang menyatukan seluruh ajaran, serta pentingnya kemurnian pikiran.

F. BOK KHI

Bok Khi ( Mu Yu 木 魚 ) adalah alat perkusi ritual berbentuk ikan kayu yang digunakan di klenteng atau wihara.

Istilah "klenteng" di Indonesia salah satunya diyakini berasal dari perpaduan bunyi lonceng ( teng-teng ) dan bunyi ketukan Bok Khi ini saat umat sedang melaksanakan ibadah liturgi atau pembacaan doa (Liam Keng / Nien Jing / Nyam Kin ).

Secara mendalam, makna dan filosofi dari Bok Khi di klenteng mencakup beberapa hal berikut:

1. Simbol Kewaspadaan dan Kedisiplinan RohaniMata Ikan yang Selalu Terbuka: Ikan adalah makhluk yang matanya tidak pernah terpejam, bahkan saat tidur. Makna: Bentuk ikan ini menjadi pengingat bagi para rohaniwan dan umat agar selalu waspada, terjaga, dan tidak terlena oleh urusan duniawi. Umat diajak untuk terus melatih diri dan menjaga kejernihan pikiran dalam meniti jalan spiritual.

2. Pengiring Ritme Doa ( Liam Keng / Nien Jing / Nyam Kin ). Fungsi: Alat ini diketuk menggunakan pemukul kayu untuk menghasilkan bunyi yang konstan, ritmis, dan monoton. Makna: Ketukan yang stabil berfungsi menjaga tempo pembacaan kitab suci atau doa bersama agar tetap serasi, tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat. Bunyi ini juga membantu memfokuskan pikiran umat agar masuk ke dalam kondisi meditatif saat beribadah.

3. Pembersih Pikiran NegatifFungsi: Getaran suara dari kayu yang berongga ini diyakini memiliki efek menenangkan. Makna: Ketukan demi ketukan melambangkan upaya mengikis kebodohan batin, mengusir rasa kantuk saat bermeditasi, serta membersihkan pikiran egois manusia agar kembali

G. AIR

Air merupakan simbol mendalam yang melambangkan kemurnian, kerendahan hati, ketenangan batin, serta sumber kehidupan.

Makna Simbol Air  adalah Pikiran yang Jernih dan Murni.

Air yang jernih dan bening mencerminkan pikiran yang bersih dari kekotoran batin ( kilesa ) seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan.  Umat diingatkan untuk menjaga batin agar tetap tenang dan tidak keruh.

Kerendahan Hati:

Sifat air yang selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah mengajarkan sikap rendah hati, tidak sombong, dan tidak merendahkan orang lain.

Ketenangan dan Kesejukan: Air yang mengalir dengan tenang mencerminkan kedamaian batin yang tidak mudah terguncang oleh kondisi luar, serta membawa kesejukan bagi sesama makhluk.Kecintaan Kasih dan Adaptabilitas:

Air dapat menyesuaikan diri dengan wadah apa pun dan memberikan kehidupan kepada siapa saja tanpa pamrih, melambangkan cinta kasih universal (metta).

Penggunaan dalam Ritual Persembahan di Altar:

Air bersih diletakkan di atas altar sebagai sarana puja (pucha) untuk merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha dan mengingatkan praktisi agar menjaga kemurnian pikiran.

Dalam tradisi perayaan Waisak di Indonesia, air suci ( seperti yang diambil dari Umbul Jumprit, Jawa Tengah ) disakralkan dan digunakan dalam ritual pembersihan rupang Hyang Buddha Sakyamuni serta simbol pembawa kedamaian.

H. PELITA / LILIN

Lilin atau pelita melambangkan Cahaya Dharma yang melenyapkan kegelapan batin ( kebodohan ) dan memberikan penerangan kebijaksanaanya.

Penerangan Batin dan Kebijaksanaan:

Nyala api melambangkan cahaya kebijaksanaan Hyang Buddha yang menuntun makhluk hidup keluar dari kebingungan dan ketidaktahuan.

Pengorbanan Diri:

Lilin yang meleleh saat dibakar mengajarkan umat untuk merelakan ego, keserakahan, dan kepentingan diri sendiri demi memberi manfaat bagi orang lain.

Simbol Warna Lilin ( Lilin 5 Warna ):

Biru: Lambang  bakti.

Kuning: Lambang  kebijaksanaan.

Merah: Lambang cinta kasih.

Putih: Lambang kesucian.

Oranye: Lambang semangat.

I. BUNGA

Simbol Ketidakkekalan

Bunga segar yang diletakkan di altar pemujaan lama-kelamaan akan layu dan gugur.

Hal ini mengingatkan umat bahwa semua hal di dunia bersifat sementara, tidak kekal, dan selalu berubah.

Proses ini juga merefleksikan kondisi fisik manusia yang suatu saat akan mengalami tua, sakit, dan meninggal dunia.

Makna Khusus Bunga Teratai (Padma) :

Pencerahan dan Kemurnian:

Teratai tumbuh dari air yang berlumpur dan kotor, namun tetap mekar dengan bersih dan indah di permukaan air.

Ini melambangkan seseorang yang dapat mencapai pencerahan spiritual meskipun hidup di dunia yang penuh noda dan penderitaan.

Berdasarkan legenda, bunga teratai mekar di setiap langkah kaki Pangeran Siddharta Gautama saat ia baru lahir.

Sebab dan Akibat:

Teratai adalah salah satu tanaman langka yang menghasilkan bunga dan buah ( biji ) secara bersamaan, menyimbolkan prinsip keserentakan sebab dan akibat ( karma ) dalam Dharma.

Sarana Penghormatan dan Latihan Batin

Mempersembahkan bunga di altar adalah bentuk rasa hormat kepada Hyang Buddha sebagai guru agung.

Tindakan ini melatih kerendahan hati, rasa syukur, serta membantu membersihkan batin dari kemelekatan terhadap hal-hal duniawi.

J. DUPA

Pembakaran dupa ( hio ) melambangkan keharuman kebajikan, moralitas, dan perbuatan baik yang menyebar ke segala arah tanpa memandang angin.

Keharuman Moralitas :

Asap dan aroma wangi dupa mengingatkan umat agar mengembangkan pikiran serta perilaku bajik yang harumnya dapat melebihi wewangian bunga duniawi.

Pengorbanan Tanpa Pamrih:

Batang dupa yang perlahan habis terbakar demi menebarkan keharuman menyimbolkan ketulusan dalam berdana (berderma) dan melatih diri.

Doa dan Aspirasi:

Asap dupa yang membumbung tinggi ke atas melambangkan ketulusan hati, penghormatan kepada Guru Mulia serta aspirasi menuju kebijaksanaan.

🙏🙏🙏
Admin