Nama tempat ibadah agama Buddha di antaranya adalah :
1. Arama, Vihara (Wihara), Cetiya
2. Klenteng bukan tempat ibadah agama Buddha tapi karena politik Orde Baru (Rezim Soeharto) maka jadi rancu karena Klenteng dipaksa ganti nama jadi Vihara.
Saat itu ada pengurus langsung ikut saran Orde Baru dan ganti nama jadi Vihara (Wihara)
Tapi ada juga yang tidak mao pake kata Vihara ( Wihara ) karena merasa tidak cocok sehingga memilih pake nama TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma) seperti yang diusulkan oleh Bpk Ong Kie Tjay dari Surabaya pada tahun 1967.
Organisasi Sam Kauw Hwee didirikan oleh Kwee Tek Hoay di Batavia pada thn 1934 sebelon NKRI merdeka.
Saat ini secara Kelembagaan / organisasi Sam Kauw memang berada di bawah pembinaan Dirjen Bimas Buddha, Kementerian Agama RI. Secara keimanan maka sejatinya Sam Kauw itu bukan sekte / subsekte dari Agama Buddha atau Agama Khong Hu Cu atau Agama Tao.
Sekte / mazhab dari Agama Buddha adalah :
* Theravada,
* Mahayana dan
* Tantrayana / Vajrayana yang direpresentasi oleh :
* Sangha Theravada,
* Sangha Mahayana
* Sangha Tantrayana.
LEMBAGA :
Secara Kelembagaan Majelis Tridharma dan Klenteng dengan nama TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma) terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan dan tempat ibadah yang dibina oleh Direkorat Jenderal Bimas Buddha, Kementerian Agama RI.
Menurut Dharmaniyoga (Fatwa) Dewan Pandita Tridharma :
* Tridharma / Sam Kauw itu adalah agama yang penghayatan nya menyatu dalam ajaran Sakyamuni Buddha, Khong Hu Cu, Lao Zi / Tao.
* Rohaniwan Tridharma / Sam Kauw itu adalah :
> Maha Pandita
> Pandita Utama
> Pandita Madya
> Pandita Muda
> Dharmaduta (Juru Penerang)
> Dharmacaraka (Pengasuh Sekolah Minggu dan Remaja)
* Dewan Pandita menetapkan Tata Cara Ibadah dan kebaktian Tridharma.
* Tata Cara ibadah dan Kebaktian Tridharma tersebut tentu berbeda dengan tata cara agama Buddha / agama Khong Hu Cu / agama Tao.
* Umat Tridharma pada umumnya memiliki KTP dengan tertulis ber agama Buddha dan ada juga yang ber KTP dengan tertulis agama Khong Hu Cu atau Aliran Kepercayaan.
* Sedangkan KTP dengan tertulis Agama Tao belum ada karena Undang-Undang Kependudukan RI belon memungkinkan hal tersebut.
KLENTENG
Penamaan Klenteng adalah ciri khas di Indonesia.
Negara negara lain tidak ada yang menyebut / menamakan Klenteng.
Klenteng adalah bunyi yang acap kali terdengar dari dalam tempat ibadah tersebut yaitu bunyi bel dan Bok Khi (Mu Yi) / batok kayu yang diketok utk mengiringi Liam Keng / Nyam Kin / Nien Cing ( Baca Sutra/Kitab ).
Bunyi nya :
TENG TENG TENG...
TOK TOK TOK...
TENG TENG TENG...
TOK TOK TOK...
Maka konon jadilah masyarakat kampung / desa sekitar menyebut bangunan tersebut sebagai KLENTENG ( Ada versi lain juga ).
Nama asli klenteng biasanya disebut ( diantara nya ) sebagai :
- Bio / Miau / Kuil
Dengan pujaan utama di altar tengah adalah Dewa / Dewi (Sin Beng / Sen Ming) utama bercirikan Taois / Buddhis Mahayana / Confucianis.
- Tang / Aula
Dengan pujaan utama di altar tengah adalah Buddha / Bodhisatva Mahasatva dari Buddhis Mahayana.
- Si / Vihara (Wihara)
Dengan pujaan utama di altar tengah adalah Buddha / Bodhisatva Mahasatva dari Buddhis Mahayana.
- Kiong / Qiong / Istana
Dengan pujaan utama di altar tengah adalah Dewa Dewi (Sin Beng / Sen Ming) dari Taois.
5. Siapa pun pujaan utama di altar tengah maka di bawahnya selalu ada :
* To Te Kong / Tu Ti Pa Kung dan atau
* To Te Ma / Tu Ti Pa Po dan atau
* Pek Houw / Dewa Macan Putih dan atau
* Pek Coa / Dewa Ular Putih
Note:
Pek Hauw adalah manifestasi dari To Te Kong.
To Te Kong adalah manifestasi dari Hok Tek Ceng Sin.
- Altar lain di kiri kanan biasanya adalah Dewa Dewi berciri Taois / Buddhis / Confucianis.
7. Juga kadang kala ada altar sesepuh / datuk / mbah yang oleh masyarakat lokal daerah tersebut dianggep sebagai yang dihormati misal :
* Eyang Surya Kencana
* Prabu Siliwangi
* Aki Semar
* Ratu Subandar
* Datuk ini. Datuk itu dll
* Mbah ini. Mbah itu dll
- Dari kesemuanya itu yang Paling Utama dan Paling Pertama adalah bahwa :
Di bagian pintu gerbang utama ada :
HIO LO PERTAMA
Utk bersyukur dan memuliakan THIAN / TIKONG / ALAM SEMESTA SEBAGAI SUMBER dan ASAL MUASAL KEHIDUPAN ( CAUSA PRIMA / CAUSA FINAL ).
9.
HIO LO KEDUA biasanya ada di teras pintu luar yaitu utk :
SAM KWAN TAY TE /
SAN GUAN DA DI
sebagai manifestasi Alam Semesta yang meliputi :
1. Air / Sui Kwan Tay Te
2. Bumi / Te Kwan Tay Te
3. Langit / Tian Kwan Tay Te.
* Giok Hong Siang Te / Yi Huang Da Di / Dewa Langit adalah juga perwujudan dari Tian
10.
Setelah Hio Lo Pertama dan Hio Lo Kedua maka baru lah :
Hio Lo Ketiga di altar tengah sebagai pujaan utama dan seterusnya.
11.
Semua teras depan Klenteng selalu ada Tempat Pembakaran Kertas Emas yang disebut :
* Kim Coa / Siu Kim / Toa Kim
* Kertas Emas tersebut dibakar sebagai pertanda bhw persembahyangan telah selesai dilakukan dengan harapan :
* Semoga doa / harapan yang baik terkabulkan
12.
Hampir semua Klenteng biasa nya terdapat CIAM SI yang terbuat dari BATANG KAYU / BAMBU (dengan Nomor) sebagai petunjuk bagi umat yang mao menerima nasehat/konsultasi dari Dewa Dewi (Sin Beng / Sen Ming) di altar utama.
Getaran hati sepenuh jiwa dari doa yang dipanjatkan umat kepada Sin Beng / Sen Ming utama akan direpresentasikan pada saat menerima batang Ciam Si tersebut.
13.
Jarang ada Klenteng tua ( lama ) yang dibangun sebelon Indonesia merdeka 1945, yang altar nya hanya murni 1 unsur saja.
* Unsur Taois saja
* Unsur Buddhis Mahayana saja
* Unsur Confucianis saja.
Altar pujaan yang terdapat di dalam klenteng tersebut selalu sekaligus bercirikan unsur Taois / Buddhis Mahayana / Confucianis maka Klenteng tidak bisa di klaim hanya milik Taois saja / Confucianis saja / Buddhis Mahayana saja. Klenteng itu cocok nya adalah Tempat Ibadah Tri Dharma.
Saat ini tidak semua Klenteng walaupun altar altar nya bercirikan Tridharma trus otomatis berada dibawah pembinaan Majelis Tridharma atau Lembaga Tridharma.
Banyak juga klenteng yang tidak bernama TITD, yaitu bernama Vihara ( Wihara ) dan dibina oleh suatu Majelis Agama Buddha.
Sementara itu juga ada Klenteng yang independent artinya tidak berada di bawah pembinaan Majelis apa pun.
Sehingga mulai terjadi konflik horizontal sesama pengurus, umat dan warga Tionghoa yang memperebutkan status kepemilikan dan pembinaan suatu klenteng.
14.
Nasi sudah jadi bubur.
Sejarah dan politik Orde Baru sudah terjadi dan sudah banyak Klenteng yang bernama jadi Vihara ( Wihara ) maka semua kembali kepada Pengurus Pengelola masing-masing.
Silahkan diskusikan / rapatkan secara internal untuk kebaikan umat.
Apakah tetep memakai nama Vihara (Wihara) / Klenteng / TITD / Bio / Tang / Si / Kiong ?
15.
Apapun nama yang diberikan maka yang paling penting adalah fungsi / kegunaan Kleneng yatu untuk :
1. Memuliakan Kebajikan Semesta
2. Menyebarkan Ajaran Kebaikan
3. Membantu kesejahteraan umat
4. Menjalin kerukunan sesama
5. Menjaga Etika dan Sopan Santun
6. Merawat Budaya sebagai bagian dari kebhinekaan karena keberadaan Klenteng di nusantara sudah lebih dari 1.000 tahun yang sudah banyak ber akulturasi dengan budaya lokal.
🙏🙏🙏
Admin

