Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur
PUTRI KANG CING WEI
DI KINTAMANI, BALI
Kebanyakan orang bilang bhw keberadaan masyarakat Tionghoa di Tangerang (Cina Benteng) sudah ada sejak thn 1.400 an sejaman dengan Dinasti Ming / Beng sehingga karena sudah ber akulturasi dengan masyarakat lokal maka kebanyakan dari mereka tidak lagi bisa berbahasa ibu dan tidak berwajah oriental
Padahal di berbagai daerah juga akulturasi Tionghoa & daerah setempat sudah berlangsung lama seperti di Palembang, Medan, Padang, Aceh, Pontianak, Singkawang, Sambas, Makasar, Manado, Gresik, Lasem, Semarang, Tegal, Pekalongan, Lombok, dll bahkan Jayapura di Papua
KINTAMANI
Tapi sedikit yang tahu masyarakat Tionghoa di
Kec. Kintamani,
Kab. Bangli.
Prop. Bali
justru sudah lebih lama yaitu sejak tahun 1.100 an di mana Sri Paduka Raja Jayapangus bertahkta di zaman kerajaan Bali Kuno
Raja Jayapangus Harkajalancana adalah keturunan Airlangga dari Dinasti Warmadewa
Masyarakat Tionghoa di Kecamatan Kintamani tersebut juga sudah berakulturasi dengan warga lokal sehingga tidak lagi bisa berbahasa ibu dan tidak berwajah oriental, keberadaan masyarakat Tionghoa di Kecamatan Kintamani tersebur terdapat di
Desa Kintamani
Desa Langgahan
Desa Kembangsari
Desa Catur Banjar Lampu
Persinggahan awal saudagar tsb (ayah Putri Kang Cing Wei yang kemudian diberi nama Bali yaitu Ratu Ayu Mas Subandar) adalah di pelabuhan pantai utara Bali (sekarang Kota Singaraja) yang kemudian sampe ke Kintamani, Klungkung, Karangasem, Gianyar, Tabanan, Badung (di Kuta) sampai Padang Bay.
SAUDARA TUA
Kedatangan Etnis Tionghoa di Kintamani selain bertujuan perdagangan selama masa Kerajaan dahulu juga mempengaruhi kebudayaan, pertanian, kuliner dan pengobatan kepada masyarakat lokal Bali pada masa tersebut. Diyakini bahwa Etnis Tionghoa tersebut mengajari pengetahuan kepada masyarakat lokal Bali pada masa kerajaan sehingga sampai saat ini Etnis Tionghoa dianggap sebagai saudara Tua bagi masyarakat Bali
AKULTURASI
Di ke empat desa tersebut selain terdapat situs makam Tionghoa Kuno juga di masing2 Pura (Pura Desa setempat) terdapat pemujaan terhadap Kongco (Hok Tek Ceng Sin / Kwan Kong / Kuan Im) + Pelinggih/Pemujaan tokoh Tionghoa yang dimuliakan yang dominan berwarna merah + ornamen khas Bali
Walau belum ada catatan / prasasti yang resmi tapi sebagian masyarakat lokal di Kintamani menyebut warga Tionghoa di Kintamani sebagai saudara tua dengan Legenda (cerita rakyat) yang melekat dalam benak masyarakat secara turun menurun
PUTRI KANG CING WEI
Legenda tersebit adalah keberadaan Putri seorang saudagar dari Tiongkok yang bernama Kang Cing Wei yang dipersunting jadi permaisuri oleh Raja Jayapangus (1.178 - 1.181)
Setelah mereka menikah beberapa tahun, Putri Kang Cing Wei belum dikaruniai anak.
Kemudian Raja Jayapangus bersemedhi di Gunung Batur.
Semasa Raja Jayapangus di Gunung Batur tersebut ia bertemu dengan Putri Danu Putri anak dari Dewi Batur.
Putri Danu tidak mengetahui bhw Raja Jayapangus sudah berkeluarga.
Mereka berkenalan & saling tertarik hingga akhir nya menikah
Putri Kang Cing Wei yang menunggu kepulangan Raja Jayapangus tidak kunjung tiba.
Akhir nya Putri Kang Cing Wei menyusul ke Gunung Batur.
Putri Kang Cing Wei kecewa dengan kenyataan tersebut Dan akhir nya mereka tersebit bertarung sengit.
Mengetahui Putri dibohongi Dewi Batur menjadi murka. Putri Danu di bantu oleh ibu nya Dewi Batur bertarung sengit dengan Putri Kang Cing Wei dan Dewi Batur mengerahkan mahluk halus penghuni Danau Batur.
BARONG LANDUNG
Untuk mengenang Raja Jayapangus dan Putri Kang Cing Wei maka Dewi Batur & Putri Danu dengan mendirian Patung sepasang Barong Landung sebagai simbol Raja Jayapangus & Putri Kang Cing Wei
FESTIVAL KANG CING WEI
Itu lah sebab nya setiap thn seminggu setelah perayaan Cap Go Meh di Kintamani diadakan Festival Kang Cing Wei
PURA DALEM BALINGKANG
Untuk penghormatan kepada Raja Jayapangus Dan Putri Kang Cing Wei Maka di area ex Kerajaan Bali Kuno tersebut di dirikan Pura Bali Ing Kang (seterusnya menjadi Pura Dalem Balingkang) sebagai Pura kahyangan jagad di Desa Pinggan (di adaptasi dari kata Peng An / Ping An), Kecamatan Kintamani + Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar (nama Bali ayah dari Putri Kang Cing Wei).
Demilkian Juga di Pura Ulun Danu Batur
HARI RAYA
Masyarakat Tionghoa di Kecamatan Kintamani tsb masih melaksanakan perayaan
Sin Cia
Cap Go Meh
Ceng Beng/Qing Ming
Peh Cun/Bacang
Cit Gwe/Qi Yue
Cioko/Rebutan/Rampas
Tiong Ciu/Kue.Bulan
Tang Ce/Dong Zi/Onde
Serta hampir di setiap Rumah Tua / putra tertua terdapat Meja Abu Leluhur dng Sin Ci (Papan nama arwah) atau foto alm almh Leluhur.
PEMAKAMAN TIONGHOA
Hampir di semua pemakaman Tionghoa di Kecamatan Kintamani tersebit terdapat aula & altar pemujaan kepada Kongco Hok Tek Ceng Sin / To Te Kong / Tu Ti Pa Kung yang merupaakan perwujudan Dewa Pertanahan sekaligus Dewa Rejeki
Pada umum nya ketika warga berkunjung ke makam Leluhur terlebih dahulu bersembahyang di altar Kongco Dan menyiapkan menu persembahyangan
UANG KEPENG
Penggunaan yang kepeng di Bali sebagai Salah satu perlengkapan upacara di Pura hingga kini juga merupakan salah satu bentuk akulturasi Tionghoa dengan Bali.
Demilkian yang sy dengar & pahami setelah bertemu dengan banyak teman di Kintamani
Tx
🙏🏿🙏🏿🙏🏿
Admin

