TATA CARA MINUM TEH

Dalam budaya Tionghoa, minum teh bukan sekadar konsumsi, melainkan seni…

Dalam budaya Tionghoa, minum teh bukan sekadar konsumsi, melainkan seni dan ritual yang melambangkan:

  1. Penghormatan
  2. Kesopanan
  3. Keseimbangan hidup.

Tata caranya mencakup etika menuang, urutan menyajikan teh kepada yang lebih tua dalam upacara Tea Pai, serta kebiasaan mengetuk meja sebagai tanda terima kasih.

UPACARA TEH PAI (PERNIKAHAN)

Pengantin baru berlutut dan menyajikan teh kepada orang tua dan kerabat yang lebih tua sebagai tanda hormat dan penerimaan dalam keluarga.

Teh Pai merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan pada pernikahan adat Tionghoa. Secara garis besar, kegiatan ini ialah prosesi minum teh untuk menghormati orang yang lebih tua. Biasanya prosesi ini berbeda di tiap daerahnya, akan tetapi secara keseluruhan tujuan dari prosesi ini sama, yaitu untuk menghormati orang yang lebih tua. Setelah meminum teh pemberian kedua mempelai, keduanya akan mendapatkan angpao atau perhiasan sebagai balasan.

Teh Pai ini biasanya dilakukan di pagi hari atau siang hari sebelum resepsi. Pada kesempatan ini juga merupakan momen di mana semua anggota keluarga akan berkumpul. Karena acara ini diperuntukkan kepada semua anggota keluarga yang lebih tua dan sudah menikah. Di sini, sanak keluarga dari kedua mempelai akan datang. Bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kedua mempelai kepada orang yang lebih tua, Teh Pai ini juga merupakan bentuk pemberian restu atau doa agar kedua mempelai hidup bahagia.

Namun, ada beberapa orang yang membuat terpisah acara Teh Pai ini, dipisahkan antara Teh Pai keluarga mempelai wanita dan pria.

Prosesi Teh Pai ini juga tidak sembarangan, ada tata caranya. Alat-alat yang perlu dipersiapkan ialah satu set peralatan minum teh, nampan untuk meletakkan teh, dan dua buah kursi.

Posisi berdiri pun tidak sembarangan, untuk posisi berdiri kedua mempelai mengikuti Nan Zuo Nü You (男左女右 / pria di kiri, wanita di kanan), begitu juga dengan posisi duduk orang yang diberikan teh. Prosesi ini dilakukan secara bergiliran dan berpasangan, dimulai dari yang paling tua hingga yang paling muda tapi tidak lebih muda dari kedua mempelai. Dan perlu diingat, anggota keluarga yang ikut Teh Pai merupakan mereka yang telah menikah.

Upacara teh ini akan dibuka dengan pemberian teh kepada orang tua, kemudian kakek dan nenek, disusul paman dan bibi, dan seterusnya.

Sebelum memberikan teh, kedua mempelai akan mempersilahkan duduk dan membungkukkan badan atau berlutut (untuk orang tua dan kakek nenek) untuk memberi hormat kepada orang tua. Apabila keluarga mempelai wanita yang dilayani terlebih dahulu, maka mempelai pria-lah yang mengambil teh dari nampan dan menyuguhkannya kepada keluarga mempelai wanita. Setelah selesai minum, mempelai pria juga yang mengambil cangkir kosong tersebut. Hal yang sama juga berlaku untuk mempelai wanita saat menyuguhkan teh pada keluarga mempelai pria.

Setelah meminum teh tersebut, pihak keluarga akan memberikan angpao atau perhiasan sebagai bentuk terima kasih. Apabila pihak keluarga memberikan perhiasan, maka perhiasan itu akan langsung dipasangkan kepada mempelai. Kemudian, di beberapa adat tertentu, sebagai ganti dari hadiah dari sanak keluarga, kedua mempelai akan menghadiahkan bingkisan kecil yang berisi handuk. Begitu terus hingga seluruh keluarga yang hadir mendapatkan gilirannya.

Apabila acara Teh Pai tidak dilangsungkan bersama antara keluarga mempelai wanita dan pria, maka acara Teh Pai akan dilangsungkan terlebih dahulu di kediaman mempelai wanita. Secara umum, acara ini digelar di kediaman masing-masing mempelai. Namun, ada juga, kok, yang melangsungkan acara Teh Pai di hotel atau venue pernikahan lainnya.

ETIKA MENUANG DAN MENERIMA SECANGKIR TEH

  • Tuan rumah wajib menuangkan teh untuk tamu.
  • Tamu menerima cangkir dengan dua tangan.

KETUKAN JARI TANDA TERIMA KASIH Saat teh dituangkan, tamu mengetuk meja dengan dua jari (telunjuk dan tengah) sebanyak 2–3 kali untuk menunjukkan rasa terima kasih.

FILOSOFI HIDUP Teh yang pahit di awal namun manis di akhir melambangkan suka duka kehidupan yang harus dijalani dengan seimbang.

TEKNIK MENYEDUH Air yang digunakan tidak boleh mendidih (sekitar 80 derajat Celcius) agar tidak merusak aroma daun teh.

Selain itu, teh sering digunakan dalam sembahyang kepada Leluhur dan Dewa-Dewi (Sinbeng / Senming) + Bodhisatva yang melambangkan kesucian dan berkah.

BUDAYA

Budaya teh Tionghoa merujuk pada cara-cara menyiapkan teh pada saat meminum teh di Tiongkok. Budaya teh Tionghoa ini berbeda dalam cara menyiapkan, rasa, dan saat untuk meminum teh dengan yang di negara Eropa, seperti Inggris, dan negara Asia lainnya, seperti Jepang.

Teh memang masih dikonsumsi rutin, baik dalam acara santai maupun acara resmi. Selain menjadi minuman yang disukai umum, teh juga digunakan sebagai minuman tradisional dan untuk pengobatan. Minum teh telah menjadi semacam ritual di kalangan masyarakat Tionghoa.

SEJAK 3.000 TAHUN SM

Di Tiongkok, budaya minum teh dikenal sejak 3.000 tahun sebelum Masehi (SM), yaitu pada zaman Kaisar Shen Nung berkuasa. Bahkan, berlanjut di Jepang sejak masa Kamakura (1192–1333) oleh pengikut Buddhisme Zen. Tujuan minum teh agar mereka mendapatkan kesegaran tubuh selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Pada akhirnya, tradisi minum teh menjadi bagian dari upacara ritual Buddhisme Zen. Selama abad ke-15, hal itu menjadi acara tetap berkumpul di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal.

Meski saat itu belum bisa dibuktikan khasiat teh secara ilmiah, tetapi masyarakat Tionghoa sudah meyakini teh dapat menetralisasi kadar lemak dalam darah setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung lemak. Mereka juga percaya minum teh dapat melancarkan buang air seni, menghambat diare, dan sederet kegunaan lainnya.

🙏🙏🙏
Admin