SUKU AKIT ( SUKU ASLI RIAU )BERAGAMA BUDDHA

Suku Akit, salah satu suku asli yang mendiami Provinsi Riau,…

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Lekuhur

Mayoritas masyarakat Suku Akit, salah satu suku asli yang mendiami Provinsi Riau, memeluk agama Buddha.

Keberadaan umat Buddha dari Suku Akit dapat ditemukan di beberapa wilayah pesisir dan pulau, seperti di Kabupaten Kepulauan Meranti (termasuk Desa Sesap, Desa Renak Dungun, dan Dusun Nerlang di Sungai Tohor) serta sebagian di Kabupaten Siak.

Fakta Singkat Umat Buddha Suku Akit Identitas Asli:

Suku Akit merupakan kelompok masyarakat adat atau penduduk asli Riau yang dahulu hidup berpindah-pindah di perairan dan hutan mangrove.

Sebagian besar penduduk Suku Akit memeluk agama Buddha, termasuk aliran Buddha Maitreya di beberapa wilayah, karena nilai ajarannya dinilai dekat dengan keharmonisan alam.

Kehidupan Beragama:

Mereka mendirikan tempat ibadah seperti vihara ( contohnya Vihara Bodhi Ratana ) dan kerap mendapat pembinaan rohani serta bakti sosial dari yayasan buddhis mengingat letak geografis perkampungan mereka yang berada di daerah terpencil.

Yayasan Dana Everyday Gelar Ekspedisi di Daerah 3T Kepulauan Meranti, Dukung Umat Buddha Suku Akit pada 10 January 2026

Yayasan Dana Everyday (DEV), sebuah lembaga yang fokus menyalurkan bantuan kepada umat Buddha di Indonesia, khususnya di daerah-daerah, kembali melaksanakan ekspedisi tahunannya.

Kali ini, sasaran adalah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Ekspedisi yang berlangsung selama empat hari, Sabtu hingga Selasa (3-6 Januari 2026), turut melibatkan Bhante Badrapalo, didampingi pengurus PC Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kepulauan Meranti, Penyelenggara Buddha setempat, guru agama Buddha, mahasiswa KKN STIAB Jhinarakhitta Lampung, serta sejumlah pemuda dan umat Buddha lokal.

Nathalia Sunaidi, Founder Yayasan Dana Everyday, menegaskan komitmen ekspedisi ini. “Ekspedisi ini sudah menjadi agenda rutin tahunan dan lebih fokus pada umat Buddha di pedesaan terutama daerah tertinggal,” ujarnya.

“Dengan kunjungan ini kami melihat langsung kondisi umat dan membuat daftar kebutuhan yang bisa kami bantu. Selain itu kami juga membagikan bingkisan kepada anak-anak Sekolah Minggu Buddha ( SMB ),” tambah Nathalia.

Ia berharap kunjungan tersebut dapat memompa semangat umat untuk lebih aktif berkegiatan dan belajar Dhamma.

Membanggakan Sekaligus Memprihatinkan

Tim melakukan kunjungan ke enam lokasi di tiga kecamatan (Tebing Tinggi, Tebing Tinggi Timur, dan Pulau Merbau), yang menjadi tempat bermukimnya umat Buddha dari Suku Akit, suku asli di Riau.

Kunjungan di dua desa di Kec. Tebing Tinggi dimulai dari rumah-rumah umat di Desa Selat Panjang dan ke Desa Sesap. Kemudian ke wilayah Kec. Tebing Tinggi Timur di dua daerah 3T yaitu Dusun Nerlang, Desa Sungai Tohor Barat, yang dihuni sekitar 300 umat Buddha dari 65 kepala keluarga dan Desa Batin Suir, (50 KK/270 jiwa).

Berlanjut ke dua desa di Kec. Pulau Merbau yaitu Dusun Sungai Baru, Desa Baran Melintang (52 KK), dan berakhir di Dusun Rintis III, Desa Renak Dungun, sebuah dusun dengan 100% warganya beragama Buddha.

Ekspedisi ini menemukan fakta yang membanggakan sekaligus memprihatinkan.

Kebanggaan muncul melihat ketangguhan umat Buddha Suku Akit yang mempertahankan keyakinannya secara turun-temurun.

“Dari pengakuan warga dan hampir semua umat yang kita temui setiap titik, mereka mengaku sudah beragama Buddha sejak leluhur mereka. Jadi agama Buddha ini sudah turun temurun dianut oleh orang-orang Akit. Ini membuat kami terharu juga bangga,” ungkap Nathalia.

Namun, di balik itu, tim menemukan kondisi serba keterbatasan di beberapa lokasi 3T seperti Dusun Nerlang, Batin Suir, dan Sungai Baru. Umat menghadapi kendala akses jalan yang sulit, belum tersedia listrik, serta minimnya pendidikan dan pembinaan agama.

Ketiga dusun tersebut juga belum memiliki vihara. Hanya di Sungai Baru yang telah memiliki gedung SMB.

Tks
🙏🙏🙏
Admin