Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur
KLENTENG SEE HIN KIONG
PADANG
Klenteng tertua di Kota Padang dan Sumatera Barat adalah Klenteng See Hin Kiong.
Klenteng See Hin Kiong berlokasi di Kawasan Kota Tua / Kampung Pondok, Kota Padang, Sumatera Barat.
DEWI KUAN IM
Altar utama klenteng tersebut adalah Dewi Kuan Im ( Avalokitesvsra Bodhisatva ).
Awalnya dibangun sekitar abad ke-19 dengan nama Kelenteng Kuan Im Teng yang berstruktur kayu dan beratap rumbia.
Klenteng tersebut dibangun pertama kali sekitar abad ke-19 (mulanya bernama Klenteng Kuan Im Teng dengan bangunan kayu dan atap rumbia). Setelah sempat terbakar, dibangun kembali pada tahun 1893 hingga selesai htahun 1897 di bawah pimpinan Kapten Lie Goan Hoat dan berganti nama menjadi See Hin Kiong.
Fungsi klenteng menjadi pusat ibadah Tridharma ( Tao, Buddha, dan Khong Hu Cu ) serta simbol akulturasi budaya Tionghoa di tanah Minang.
Klenteng tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya dan menjadi salah satu titik tujuan wisata religi yang populer saat perayaan Cap Go Meh di Padang.
Setelah sempat terbakar, klenteng ini dibangun kembali pada tahun 1893
AKULTURASI
Sejarah akulturasi Tionghoa di Padang bermula dari interaksi perdagangan sejak abad ke-17 dan berkembang melalui pembauran budaya yang harmonis dengan masyarakat Minangkabau.
Awal Kedatangan dan Perkembangan Wilayah Masuknya Pedagang Tionghoa yaitu Saudagar Tionghoa datang ke Padang sejak abad ke-17 bersamaan dengan aktivitas perdagangan dan kehadiran VOC.
Peningkatan jumlah warga Tionghoa terjadi karena sebagian pedagang yang tidak kembali ke Asia memilih menetap.Kebijakan Kolonial (Wijkenstelsel).
Pada tahun 1835, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kebijakan lokalisasi pemukiman yang menandai lahirnya Kampung Pondok sebagai kawasan pecinan di Padang.
Wujud Nyata Akulturasi Budaya Bahasa Minang adalah Interaksi sosial yang erat melahirkan dialek khas bernama Bahasa Minang Pondok, yaitu perpaduan bahasa Minangkabau dengan kosakata dan logat Tionghoa.
Bahasa ini mencampur kosakata bahasa Mandarin/Tionghoa dengan bahasa Minang dan Indonesia ( contohnya kata cidang atau cici gadang untuk kakak perempuan ).
Perpaduan budaya terlihat dalam perayaan seperti tradisi Cap Go Meh & Sa Cap Meh di Kelenteng See Hin Kiong, yang kerap menampilkan atraksi barongsai hingga kesenian lokal seperti tari piring.
Keberadaan pusat kegiatan seperti Pasar Tanah Kongsi menunjukkan perpaduan kuliner dan interaksi ekonomi harian yang harmonis antara warga Minang dan Tionghoa.
Beradaptasinya etnis Tionghoa dengan nilai-nilai lokal serta kuatnya sistem matrilineal masyarakat Minang ( seperti filosofi Bundo Kanduang ) menciptakan kehidupan sosial yang rukun dan minim konflik.
Perayaan budaya seperti tradisi Cap Go Meh & Sa Cap Meh dalam Perayasn Tahun Baru Im Yang Lek ( Sincia ) kerap memadukan atraksi barongsai dan kesenian Tionghoa dengan tari piring khas Minangkabau.
Hubungan antar-etnis yang rukun ditopang oleh kemampuan adaptasi yang baik serta sistem sosial lokal, sehingga tercipta kehidupan berdampingan yang damai tanpa gesekan berarti.
Tks
🙏🙏🙏
Admin

