Ding Lan Membuat Patung Orang Tuanya

Ding Lan kehilangan kedua orang tuanya di usia yang sangat…

Ding Lan kehilangan kedua orang tuanya di usia yang sangat muda, tepat saat ia belum sempat membalas budi atas kasih sayang mereka. Karena kerinduan yang mendalam dan keinginan untuk berbakti, ia memesan dua buah patung kayu yang menyerupai wajah ayah dan ibunya sebagai bentuk penghormatan.
Ding Lan meletakkan patung-patung tersebut di ruang utama rumahnya dan memperlakukan mereka seolah-olah orang tuanya masih hidup. Setiap pagi dan petang, ia dengan penuh hormat membakar dupa dan bersujud, bahkan bahkan setelah ia menikah, dan ia pun mengajak istrinya untuk turut serta menghormati patung tersebut setiap hari.
Suatu hari, sang istri yang bosan dengan rutinitas itu mencoba bercanda dengan menusuk tangan patung tersebut menggunakan jarum. Tak disangka, darah sungguhan mengalir dari tangan patung itu. Saat pulang dan melihat bekas luka serta air mata pada patung orang tuanya, Ding Lan sangat murka. Ia menganggap tindakan istrinya sebagai penghinaan besar terhadap orang tuanya, sehingga ia memutuskan untuk menceraikannya.


Pesan Moral:
Bakti kepada orang tua adalah bentuk kehormatan yang sangat tinggi. Kisah ini mengingatkan kita untuk selalu menghargai orang tua, baik saat mereka masih ada maupun setelah mereka tiada.