NAGARJUNA

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormst Leluhur NAGARJUNA Bhikshu Nāgārjuna adalah seorang filsuf,…

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormst Leluhur

NAGARJUNA

Bhikshu Nāgārjuna adalah seorang filsuf, dan guru besar Buddhisme Mahayana asal India yang hidup sekitar abad ke-2 hingga ke-3 masehi.

Nagarjuna adalah pendiri aliran Madhyamaka: Ia dikenal sebagai pendiri aliran filsafat Madhyamaka ( Jalur Tengah ), yang menekankan konsep śūnyatā (kekosongan) dari segala fenomena.

Ajarannya sangat mempengaruhi perkembangan Buddhisme Mahayana di India, Tibet, China, dan Asia Timur.

Penulis Kitab Suci

Ia menulis banyak karya penting, termasuk Mulamadhyamakakarika ( Akar Kebijaksanaan Jalur Tengah ).

Nagarjuna diperkirakan lahir di antara abad pertama dan kedua dan dianggap sebagai pendiri sekolah Mādhyamaka dari Mahāyāna Buddhisme.

Sekolah ini meluas sampai ke Tiongkok dengan nama sekolah Sān Lùn.

Dalam beberapa tradisi Mahayana, Nagarjuna dianggap sebagai Bapak Mahayana dan Buddha "kedua" karena reputasinya.

Karya utamanya adalah Mula-madhyamaka-karika.

Istilah yang sering disalahpahami tentang pemahaman Nagarjuna adalah istilah "kekosongan".

Istilah ini bukan berarti suatu penyangkalan akan dunia atau substratum nihilum.

Melainkan suatu ketidakhadiran dari svabhava atau esensi

ESENSI

Esensi ajaran Bhikhsu Nagarjuna ( Ārya Nāgārjuna ) adalah doktrin kekosongan atau Śūnyatā yang dipadukan dengan Hukum Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan ( Pratītyasamutpāda ), membentuk landasan bagi Mazhab Madhyamaka (Jalan Tengah).

Inti pemikirannya yang tertuang dalam karya monumentalnya, Mūlamadhyamakakārikā (MMK), mencakup beberapa poin utama berikut:

Penolakan atas Esensi Diri ( Niḥsvabhāvavāda ) Nagarjuna menegaskan bahwa segala fenomena, baik fisik maupun mental, tidak memiliki esensi diri yang permanen, mutlak, dan mandiri (svabhāva).

Segala sesuatu di alam semesta ini tidak bisa berdiri sendiri karena eksistensinya selalu bergantung pada faktor, kondisi, atau konsep lain.

Hubungan Śūnyatā dan PratītyasamutpādaŚūnyatā (kekosongan) sering kali disalahpahami sebagai nihilisme atau ketiadaan mutlak.

Bagi Nagarjuna, kosong berarti kosong dari eksistensi independen. Karena segala sesuatu muncul dari perpaduan kondisi ( Pratītyasamutpāda ), maka segala sesuatu itu pada hakikatnya adalah sunya (kosong).

Dengan kata lain:"Apa pun yang muncul secara bergantungan, itulah yang kami sebut sebagai kekosongan."

Jalan Tengah ( Madhyamaka )

Ajaran ini membebaskan manusia dari dua pandangan ekstrem (biner) dalam berfilsafat:Eternalisme (Ekstrem Ada): Pandangan bahwa ada jiwa atau materi yang kekal dan mandiri.

Nihilisme ( Ekstrem Tidak Ada ): Pandangan bahwa tidak ada apa-apa sama sekali atau penolakan total terhadap realitas sehari-hari.

Nagarjuna mengambil posisi di tengah ( Madhyamaka ) dengan menyatakan bahwa segala sesuatu ada secara konvensional, namun kosong secara absolut.

Dua Tingkat Kebenaran ( Satyadvaya )

Nagarjuna membagi kebenaran menjadi dua level untuk menjembatani realitas praktis dan realitas mutlak:Kebenaran Konvensional (Saṃvṛti-satya): Kebenaran sehari-hari yang kita gunakan untuk berinteraksi, berbahasa, dan menjalankan moralitas (misalnya konsep "saya", "meja", "baik-buruk").

Kebenaran Mutlak (Paramārtha-satya): Realitas tertinggi di mana semua konsep biner lenyap dan menyadari bahwa segala fenomena adalah Śūnyatā.

Melalui pemahaman Śūnyatā, manusia dilatih untuk melepaskan kemelekatan mental terhadap pandangan-pandangan dogmatis, konsep "aku", dan kepemilikan mutlak.

Inilah yang melahirkan kebijaksanaan (Prajna) dan welas asih (Karuna) yang mendalam untuk mencapai pembebasan dari penderitaan.

Tks
🙏🙏🙏
Admin