Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur
ATISA SHRIJNANA DIPANKARA
Atisa Shrijnana Dipankara ( 982–1054 M ) adalah seorang Bhikshu & cendekiawan Buddhis besar dari Bengal, India, yang berperan penting dalam mereformasi ajaran Buddha di Tibet.
Atiśa Shrijnana Dipankara adalah seorang Bhikshu Buddha dari Kekaisaran Pala.
Atisa Shrijnana Dipankara (982-1054 M) adalah biksu dan cendekiawan besar dari India yang berperan penting dalam menyebarkan Buddha Dharma ke Tibet dan pernah belajar di Swarnadwipa (Sriwijaya/Sumatera).
Karena beliau hidup jauh sebelum teknologi foto ada, gambar dirinya yang ada saat ini merupakan lukisan thangka tradisional atau patung, bukan foto asli.
LUKISAN THANGKA
Sering digambarkan dengan jubah biksu, wajah tenang, dan sering memegang kitab suci atau alat ritual (seperti vajra dan lonceng).
Biasanya duduk dalam posisi meditasi, menunjukkan figur guru yang agung.
Ia bersama kedua temannya yang lain yaitu Konchog Gyalpo dan Marpa adalah salah satu tokoh besar dalam pembentukan garis keturunan Sarma di Tibet setelah represi agama Budha oleh Raja Langdarma.
LAHIR
Atisa lahir pada tahun 980 di desa Vajrayogini di Bikrampur, wilayah timur laut Benggala ( saat ini adalah Bangladesh ).
Dengan ama aslinya Dipankara Srijnana.
Beberapa sumber mengindikasikan bahwa Atisa lahir pada tahun 982 dan meninggal pada tahun 1054.
FILSAFAT & SPIRITUAL
Semasa hidupnya, ia sangat berpengaruh dalam filsafat Buddhis dan juga spiritual.
Ia digambarkan sebagai seorang spiritualis yang dapat mencerahkan individu lainnya.
Selain itu, kehidupan spiritual dari Atisa ditunjukkannya dengan ciri kehidupan memberikan kasih sayang kepada orang-orang disekitarnya baik orang yang memiliki agama sama dengannya ataupun yang berbeda agama.
Kepeduliannya pada orang lain ia tunjukkan juga dalam perannya membantu orang lain yang sedang menghadapi situasi sulit, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial.
BELAJAR
KE SRIWIJAYA ( MUARO JAMBI )
Sebelum berangkat ke Tibet, ia belajar selama 11 tahun di Sriwijaya, di Suwarnadwipa di Malayagiri di bawah pimpinan Dharmakirtti, pendeta agung kebudhaan di Suwarnadwipa ( Sumatra ) dan tinggal di Sumatra sekitar 1011—1023.
Ia dikenal sebagai pangeran yang meninggalkan kehidupan istana untuk belajar di Nalanda, dan pernah belajar selama 12 tahun di Sriwijaya ( Muaro Jambi ).
Atisa Dipankara lahir dengan nama Chandragarbha di Bengal Timur, ia adalah putra kedua Raja Kalyanasri dan Ratu Sri Prabhawati.
Ia belajar di pusat studi Buddhis terkenal, Nalanda, dan berguru pada 157 guru di India.
12 TAHUN DI SRIWIJAYA
Atisa Dipankara menempuh perjalanan laut ke Sumatra untuk berguru pada Dharmakirti ( Serlingpa ) di Sriwijaya selama 12 tahun ( 1011-1023 M ) guna mempelajari Bodhicitta ( batin pencerahan ) yang berdasarkan cinta kasih dan welas asih.
Atisa Dipankara diundang ke Tibet untuk memperbaiki ajaran Buddha yang dianggap merosot, menyusun kitab Bodhi - patha - pradipa ( "Lampu Penerangan Sang Jalan" ), dan meletakkan dasar bagi tradisi Kadam.
Ia menyusun kitab terkenal "Bodhi - patha - pradipa" yang menjelaskan jalan menuju pencerahan.
TOKOH KUNCI
Atisa Dipankara dipandang sebagai tokoh kunci yang menjembatani ajaran Buddha Mahayana dari India dan Sriwijaya ke Tibet, membawa ajaran inti tentang welassih.
Atiśa Dipankara adalah seorang Bhikshu Buddha dari Kekaisaran Pala.
Tks
🙏🙏🙏
Admin

