THE BOAN AN

THE BOAN AN

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat Leluhur THE BOAN AN The Boan An…

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

THE BOAN AN

The Boan An adalah tokoh yang menjadi Ketua Umum pertama Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) ketika organisasi tersebut dibentuk pada 20 Februari 1952 di Jakarta.

The Boan An menjabat Ketua Umum pertama GSKI ( Gabungan Sam Kauw Indonesia )

GSKI berdiri 20 Februari 1952.

GSKI merupakan gabungan berbagai organisasi Sam Kauw, termasuk unsur Buddha, Khong Hu Cu, dan Tao, serta organisasi terkait lainnya.

Namun beliau pada akhir tahun 1953 mengundurkan diri sebagai Ketua GSKI karena menjadi Bhikkhu.

MENJADI BHIKKHU

The Boan An kemudian dikenal sebagai Sukong / Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, setelah menjalani penahbisan sebagai bhikkhu Theravada di Burma ( Myanmar ) pada 1954.

Setelah ia berangkat ke Burma untuk memperdalam dan menerima penahbisan, kepemimpinan GSKI kemudian beralih kepada Drs. Khoe Soe Kiam ( Drs. Sasana Surya / Khoe Soe Kiam ).

GTI

GSKI kemudian berkembang dan pada sekitar 1962 berganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia ( GTI ).

Ada sedikit perbedaan tanggal dalam sumber-sumber sejarah mengenai tahun/tanggal pembentukan formal GSKI, tetapi sumber akademik dan sumber sejarah ditemukan secara konsisten menyebut The Boan An sebagai pemimpin awal GSKI.

Pada tahun 1952 – The Boan An menjadi Ketua Umum GSKI (Gabungan Sam Kauw Indonesia).

GTI BERBADAN HUKUM

Pada tahun 13 April 1953 – GSKI memperoleh status badan hukum melalui Penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA5/31/13 tanggal 9 April 1953.

Pada akhir tahun 1953 – The Boan An ditahbiskan sebagai samanera Ti Chen dalam tradisi Mahayana di Kong Hoa Sie, Jakarta.

Pada tahun 1954, beliau pergi ke Burma ( sekarang Myanmar ), belajar meditasi di bawah tradisi Mahasi Sayadaw, kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan nama Ashin Jinarakkhita.

MUNDUR DARI GSKI

Setelah menjadi bhikkhu, The Boan An/Ashin Jinarakkhita tidak lagi memimpin GSKI. Ketua GSKI kemudian beralih kepada Drs. Khoe Soe Kiam (Sasana Surya).

GSKI JADI GTI

Pada tahun 1962 – GSKI kemudian berganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia ( GTI ).

  • The Boan An,
  • Visakha Gunadharma ( Ny. Tjoa Hin Hoeij / Kwee Yat Nio ) dan
  • Ong Tiang Biauw Bhikkhu Jinapuths )

termasuk tokoh penting dalam kepemimpinan awal GSKI.

Pada 1952, GSKI di bawah pimpinan The Boan An menyelenggarakan kegiatan Waisak dan Asadha di Jakarta.

Sumber sejarah Buddhisme Indonesia menyebut GSKI berdiri / diaktifkan kembali pada 20 Februari 1952 di bawah pimpinan The Boan An.

The Boan An merupakan tokoh sentral GSKI pada periode awal 1950-an, bukan sekadar anggota biasa.

GSKI adalah kelanjutan dari Sam Kauw Hwee yang didirikan oleh Kwee Tek Hoay ( 1934 ) di Batavia.

LAHIR & MENINGGAL

The Boan An lahir pada
23 Januari 1923 di Bogor, Jawa Barat, Hindia Belanda.

Meninggal
18 April 2002 (umur 79)

MASA KECIL

The Boan An merupakan anak ketiga dari pasangan The Hong Gie dan Tan Sep Moy.

Ayah Boan An, merupakan seorang wijkmeester, atau semacam lurah untuk masa kini, sehingga di rumah Boan An sewaktu kecil sering kali didatangi oleh banyak orang untuk mengurusi berbagai surat-surat penting.

Namun sayangnya, pada saat ia berumur 2 tahun, ibunya meninggal dunia, dan kemudian ayahnya menikahi adik dari Tan Sep Moy, yaitu Sep Nyie Moy yang menjadi ibu tiri untuk si kecil Boan An.

MASA SEKOLAH

Pada saat duduk di sekolah dasar di HCS, Boan An tidak mendapatkan uang jajan dari orangtuanya sehingga ia bekerja sambilan untuk memperoleh uang jajan.

Ia menjadi tukang tagih utang untuk seorang dokter, dan mendapat persenan dari hasil tagihan tersebut.

Meskipun demikian, Boan An bukanlah orang yang kasar, tetapi pemurah dan berhati lurus. Ia sering membagi-bagikan uang jajannya kepada teman-temannya yang lain dan sangat tidak suka mencuri barang orang lain.

Pernah suatu hari, teman dekatnya, Anyi berniat untuk mencuri buah jambu dan dihentikan oleh Boan An dan mengatakan bahwa lebih baik ia memintanya daripada mencuri.

Boan An juga memiliki sifat yang keras, jika ia tidak maka tidak, jika mau maka mau.

Akibat sifatnya ini ia pernah bertengkar dengan ayahnya sehingga ia berusaha untuk kabur dari rumahnya untuk pergi ke tempat neneknya.

Setelah seharian berusaha ke tempat neneknya, akhirnya ayahnya berusaha mencarinya dan menemukannya di rumah salah seorang yang memberinya tempat menginap untuk sementara.

LULUS HCS

Setelah lulus dari HCS ia ingin melanjutkan pendidikannya di HBS, setara dengan SMA untuk masa itu, tetapi karena terlambat mendaftar akhirnya ia bersekolah di PHS selama satu tahun pada 1936, dan setelah itu baru ia mendaftar kembali untuk belajar di HBS tahun berikutnya.

YOGA

Pada saat itu, ia sudah mulai tertarik dengan ilmu-ilmu gaib dan yoga. Ia sering bercerita banyak sekali tentang yoga kepada teman-temannya. "Yoga.

Yoga itu membela kamu punya jiwa, Kamu gak akan ngaco pikirannya. Kalau lagi banyak pikiran, nolkan lagi, sudah nol boleh mikir lagi.” Pada saat itu juga ia berkenalan dengan seorang Belanda bernama Reigh yang katanya dapat melihat makhluk halus.

Oleh Reigh ini, Boan An belajar mengenai magnetism untuk penyembuhan dan juga okultisme.

Ketertarikan Boan An mengenai hal-hal spiritual ini membuat ayahnya merasa khawatir akan pendidikan anaknya di sekolah. Akhirnya ayahnya mengajak Boan An ke tempat kakeknya.

Ternyata kakek Boan An yang merupakan vegetarian, membuat Boan An ikut menjadi vegetarian yang membuat marah ayahnya.

THS / ITB

Setelah lulus dari HBS pada tahun 1941, Boan An melanjutkan pendidikannya di THS jurusan ilmu pasti alam (sekarang ITB). Namun, setelah Jepang menduduki Indonesia, semua perkuliahan dihentikan, akibatnya Boan An pun pulang kembali ke rumahnya di Bogor.

Di Bogor ia membantu di dapur umum yang didirikan untuk membantu orang-orang yang kesulitan mendapat makanan pada masa tersebut.

Selain itu, ia juga rajin bermeditasi dan bertukan pikiran dengan tokoh-tokoh spiritual yang ada.

Akhirnya, ia berkenalan dengan orang-orang dari perkumpulan Theosofi dan mulai memperdalam minatnya di bidang spiritual.

Pada tahun 1946, ayah Boan An merasa bahwa anaknya harus melanjutkan kembali pendidikannya yang tertunda.

BELAJAR KE BELANDA

Boan An akhirnya melanjutkan pendidikannya di Groningen, Belanda di Universitas Groningen, Fakultas Ilmu Pasti Alam jurusan ilmu Kimia.

Di Belanda ia mulai aktif dalam organisasi Theosofi dan juga mulai memperdalam ilmu filsafat. Ia juga membantu dalam bidang sosial, yaitu sewaktu Dam Wicheren bocor, ia menjadi sukarelawan di sana.

Setelah tahun keempatnya di negeri Kincir tersebut, ia menuliskan surat kepada temannya bahwa tidak ingin meneruskan pendidikan ilmu kimia nya dan ingin memusatkan perhatiannya dalam penyebaran agama Buddha.

Akhirnya, setelah 5 tahun berada di negeri orang, Boan An pun kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1951, Boan An kembali lagi ke Indonesia. Dia pun menjadi salah satu pendiri Gabungan Sam Kauw Indonesia, di mana perkumpulan ini mencoba untuk melestarikan kebudayaan Buddhisme, Konfusius, dan Taoisme di Indonesia, di mana ia diangkat menjadi ketuanya. Ia juga menjadi wakil ketua pengurus pusat Pemuda Teosofi di Indonesia.

Salah satu usahanya dalam melestarikan agama Buddha di Indonesia ialah mengadakan perayaan Waisak secara nasional untuk pertama kalinya dalam beratus-ratus tahun di candi Borobudur pada tanggal 23 Mei 1953.

Ketertarikan Boan An pada ajaran Buddha membuat ia sering mengunjungi kelenteng Kong Hoa Sie yang berada di Jakarta.

Tks
🙏🙏🙏
Admin