Bodhidharma atau Tat Mo Co Su ( Da Mo Zu Shi /達摩祖師) adalah bhiksu legendaris asal India Selatan yang membawa ajaran Buddha ke Tiongkok.
ASAL-USUL
Bodhidharma, atau yang dalam dialek Hokkien dikenal sebagai Tat Mo Co Su, merupakan bhiksu legendaris yang hidup pada abad ke-5 atau ke-6 Masehi. Ia diyakini sebagai putra ketiga dari seorang raja agung di India Selatan dari kasta Brahmana. Meskipun tumbuh di lingkungan istana, ia memilih meninggalkan kemewahan duniawi demi menjadi bhiksu dan mendalami aliran Mahayana. Dalam silsilah Buddhis, ia diakui sebagai Patriark ke-28 yang garisnya tidak terputus dari Sakyamuni Buddha di India.
Secara fisik, Tat Mo Co Su digambarkan dengan rupa yang ikonik dan eksotis bagi masyarakat Tiongkok kala itu. Ia memiliki hidung besar, jenggot lebat, serta mata lebar yang tajam sehingga dijuluki "Si Barbar Bermata Biru" (Bì Yan Hú). Penggambaran ini mencerminkan karakter yang teguh serta kedalaman spiritual yang ia bawa dari tanah kelahirannya.
PERJALANAN KE TIONGKOK DAN PERTEMUAN DENGAN KAISAR
Pada tahun 520 M (Masa Dinasti Liang), beliau tiba di Guangzhou sebelum menuju Jin Ling (sekarang Nanjing). Di sana, terjadi percakapan terkenal antara beliau dengan Kaisar Liang Wu Di, seorang kaisar yang gemar beramal. Ketika Kaisar bertanya dengan bangga mengenai berapa banyak kebajikan yang ia dapatkan dari mendirikan kuil dan menulis kitab suci, Tat Mo Co Su menjawab singkat: "Tidak ada kebajikan!" Beliau menjelaskan bahwa apa yang dikerjakan Kaisar barulah perbuatan bermanfaat, namun bukan kebajikan sejati yang membebaskan dari ego.
Karena sang Kaisar tidak memahami maknanya, Tat Mo Co Su meninggalkan negeri Liang menuju negeri Wei. Legenda mengisahkan bahwa saat menyeberangi Sungai Yang Zi, beliau secara ajaib hanya berpijak pada sebatang rumput gelagah. Mukjizat ini menjadi simbol kedalaman ilmu dan kemurnian spiritual beliau, yang hingga kini sering diabadikan dalam berbagai karya lukisan klasik sebagai gambaran sosok guru yang telah melampaui keterbatasan fisik duniawi.
WARISAN DI WIHARA SHAO LIN: MEDITASI DAN KUNG FU
Setelah sampai di Negeri Wei (Henan), beliau menetap di Wihara Shao Lin (Siau Lim Sie), Gunung Song Shan. Di sinilah beliau secara tradisional diakui sebagai Patriark Pertama aliran Chan (Zen). Beliau terkenal karena bermeditasi menghadap dinding selama sembilan tahun. Guna menjaga kebugaran para bhiksu agar tetap kuat dalam praktik meditasi yang berat, beliau menciptakan teknik fisik khusus yang menjadi cikal bakal Shao Lin Kung Fu. Kombinasi disiplin spiritual dan fisik ini menjadikan Shao Lin pusat bela diri paling berpengaruh yang mencapai puncak popularitas global pada abad ke-20.
LANKAVATARA SUTRA: PEDOMAN UTAMA ALIRAN CHAN
Ajaran Bodhidharma sangat berpusat pada Lankavatara Sutra (Leng Jia). Sutra ini menekankan bahwa realitas objektif sebenarnya adalah proyeksi dari pikiran sendiri (Mind-Only). Fokus utamanya adalah pemahaman pada sifat dasar pikiran (Citta) dan kesadaran (Vijnana). Bagi aliran Chan awal, sutra ini menjadi panduan krusial untuk beralih dari sekadar pemahaman tekstual menuju pengalaman langsung akan sifat Buddha di dalam diri.
TRANSMISI KEPADA PATRIARK KEDUA
Di Wihara Shao Lin, seorang bhiksu bernama Hui Ke datang untuk berguru. Terkesan oleh ketulusan hatinya, Tat Mo Co Su mengangkat Hui Ke sebagai murid utama dan kelak menjadi Patriark ke-2 aliran Chan di Tiongkok. Sebagai simbol transmisi ajaran, Bodhidharma menyerahkan empat gulung Lankavatara Sutra beserta jubah dan mangkuknya kepada Hui Ke. Beliau menyatakan bahwa sutra tersebut adalah ajaran yang paling sesuai bagi masyarakat Tiongkok untuk mengembangkan kebijaksanaan sejati.
BERAKULTURASI DENGAN KHONG HU CU dan TAO
Ajaran Buddhis Mahayana yang dibawa oleh Da Mo Zu Shi (Tat Mo Co Su) dari India ke Tiongkok mengalami proses akulturasi yang mendalam dengan filsafat lokal, yakni Khong Hu Cu (Konfusianisme) dan Taoisme. Pertemuan unsur-unsur spiritual ini melahirkan Zen Buddhisme, sebuah sekte penting dalam Mahayana yang memadukan kedalaman meditasi India dengan praktisisme Tiongkok. Menariknya, hubungan ini bersifat timbal balik; meskipun mulanya dipengaruhi oleh nilai-nilai Kongzi dan Dao, pada perkembangannya Buddhisme Zen justru berbalik mempengaruhi kemunculan Neo-Konfusianisme yang berkembang pesat pada masa Dinasti Song (960–1279 M).
PENGHORMATAN DAN TRADISI
Hingga saat ini, Tat Mo Co Su dihormati sebagai salah satu dari 18 Lo Han (Shi Ba Lo Han), yang arcanya dapat ditemukan di tempat-tempat suci, salah satunya di Kelenteng Kim Tek Ie (Jing De Yuan), Glodok, Jakarta.
Hari lahir beliau (Sejid) diperingati setiap tahun pada tanggal 5 bulan 10 penanggalan Imlek (Cap Gwe Ce Go). Nama beliau sendiri tetap abadi sebagai simbol pencapaian spiritual: Da Mo (Dharma) merujuk pada ajaran, dan Zu Shi bermakna Guru Besar. (##)

