Bodhisattva Manjushri ( 文 殊 菩 薩 / Wén Shū Púsà / Bun Cu Su Li Posat ) adalah salah satu Bodhisatva utama dalam tradisi agama Buddha Mahayana dan Vajrayana yang melambangkan kebijaksanaan, pencerahan, dan pengajaran yang tercerahkan.
Nama Manjushri berarti "Kemuliaan yang Lembut" atau "Nasib Baik yang Mendatangkan Kesuksesan yang Menakjubkan".
Dalam istilah Sanskerta akan Mañjuśrī dapat diartikan sebagai "Kemuliaan Baik Hati".
Mañjuśrī juga dikenal dengan nama Sanskerta yang lebih lengkap yakni Mañjuśrī-kumāra-bhūta.
PANGERAN DHARMA
Beliau sering disebut sebagai Pangeran Dharma ( Dharmakumara ) dan bersama Bodhisatva Samantabhadra, beliau menjadi pengikut utama pendamping Buddha Sakyamuni.
CIRI KHAS
Bodhisatva Manjushri biasanya digambarkan dengan ciri khas sebagai berikut :
Pedang Api ( Khadga ) di tangan kanan. Melambangkan kebijaksanaan transenden ( prajna ) yang mampu memotong ketidaktahuan, khayalan, dan sifat dualitas manusia.
Kitab Sutra ( Prajna Paramita ) di tangan kiri atau di atas kepala. Melambangkan inti ajaran kesempurnaan kebijaksanaan.
Menaiki Singa. Melambangkan kekuatan dan keperkasaan pikiran liar yang berhasil dijinakkan oleh kebijaksanaan.
Sering digambarkan berusia sekitar 16 tahun untuk merepresentasikan kemurnian dan kejernihan pikiran yang tak pernah layu oleh usia.
PERAN DALAM ALIRAN AGAMA BUDDHA
Dalam Agama Buddha Mahayana,
Bodhisatva Manjusrhi dipandang sebagai perwujudan kebijaksanaan tertinggi dari semua Buddha dan pembimbing banyak makhluk menuju pencerahan.
Dalam Agama Buddha Vajrayana ( Tantrayana ),
Bodhisatva Manjushri dianggap sebagai Yidam ( dewa meditasi ) serta Buddha yang telah mencapai pencerahan sempurna di masa lalu, namun bermanifestasi menjadi seorang Bodhisatva demi menuntun umat.
Gunung Wu Tai ( Wu Tai San) di Tiongkok diyakini secara tradisional sebagai tempat kediaman duniawi dari Bodhisatva Manjushri.
MANTRA
"OM A RA PA TSA NA DHIH" ( Om A Ra Pa Ca Na Dhīḥ / Om A La Ba Zha Na Di )
OM:
Melambangkan tubuh, ucapan, dan pikiran yang suci dari para Buddha.
A:
Membantu memahami bahwa semua fenomena tidak muncul dengan sendirinya dari awal.
RA
Melambangkan pemahaman akan kekosongan (sunyata) dan kebebasan dari kotoran batin.
PA:
Melambangkan bahwa hukum Dharma telah dibabarkan secara mutlak (paramartha).
TSA (atau CA):
Melambangkan bahwa kelahiran kembali atau peluruhan tidak dapat ditangkap karena sifatnya yang melampaui perubahan.
NA:
Melambangkan sifat dasar fenomena yang tidak berubah meskipun diberi nama.
DHIH:
Melambangkan puncak kebijaksanaan transenden (prajna) dan kejernihan pikiran.
MANFAAT
Meningkatkan daya ingat, kecerdasan kognitif, dan kefasihan berbicara ( pratibha ).
Memotong akar ketidaktahuan ( avidya ) serta keraguan.
Membantu dalam studi, membaca kitab suci, dan penjernihan pikiran.
SUTRA
Beberapa kitab suci utama ( sutra dan teks kanonis ) yang berkaitan secara langsung atau sering menyebutkan Bodhisatva Manjusri dalam tradisi Buddha Mahayana dan Vajrayana meliputi:
Sutra Avatamsaka ( Avatamsaka Sutra ) – Manjusri berperan sangat penting di dalamnya, termasuk mendorong anak muda Sudhana untuk berziarah dan mencari Dharma kepada 53 guru spiritual.
Sutra Teratai ( Saddharma Pundarika Sutra ) – Menjelaskan mengenai silsilah masa lampau Manjusri sebagai Varaprabha Bodhisattva.
Sutra Vimalakirti ( Vimalakirti Nirdese Sutra ) – Memuat dialog filosofis yang sangat terkenal dan mendalam mengenai kebijaksanaan ( prajna ) antara Bodhisattva Manjusri dan umat awam Vimalakirti.
Sutra Namasanghiti ( Manjushri Namasanghiti ) – Kumpulan bait nyanyian suci mengenai nama-nama dan kualitas kemuliaan Manjusri yang dianggap sebagai inti atau puncak dari kebijaksanaan Buddha.
Sutra Mañjuśrīmūlakalpa ( Manjushri Mula Kalpa ) – Teks penting yang memuat tata cara ritual, mandala, dan pengucapan mantra yang berkaitan dengan Manjusri.
Sutra Ksitigarbha ( Ksitigarbha Sutra ) – Dibuka dengan dialog awal di mana Manjusri mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting kepada Hyang Buddha mengenai latar belakang ikrar Ksitigarbha.
Tks
🙏🙏🙏
Admin

