Cai Ci dan Cai Ma

Cai Ci dan Cai Ma adalah istilah untuk perempuan pendoa…

Cai Ci dan Cai Ma adalah istilah untuk perempuan pendoa tradisional dalam komunitas etnis Hakka. Mereka menjalani hidup membujang (selibat) serta vegetarian, dengan praktik ritual yang memadukan unsur Buddha rakyat (Xianghua Fojiao), Taoisme, Konfusianisme, dan tradisi lokal.

Cai Ci (齋 姐)

Cai Ci adalah perempuan penganut vegetarian yang memilih untuk tidak menikah dan mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan keagamaan.

  • Peran Ritual: Memimpin ritual keagamaan serta melantunkan sutra (keng / jing) menggunakan bahasa dan irama lagu rakyat Hakka.
  • Penggunaan Sapaan: Panggilan Cai Ci merupakan bentuk sapaan yang paling sopan dan tepat di tengah masyarakat.
  • Pendidikan dan Pernikahan: Cai Ci muda tetap menempuh pendidikan formal (TK, SD, SMP, SMA). Jika ada umat yang tertarik untuk menikahi seorang Cai Ci, pihak calon pengantin pria wajib membayar kaul/mahar kepada wihara serta menyelenggarakan serangkaian ritual/upacara sebagai bentuk ungkapan terima kasih.

Cai Ma (Cai Ci Senior / Tua)

  • Cai Ma merujuk pada pendoa perempuan yang sudah senior.
  • Sapaan ini sering kali berkonotasi kurang sopan atau peyoratif jika disematkan secara langsung.
  • Saran: Tetap gunakan istilah Cai Ci untuk menyapa mereka sebagai bentuk penghormatan atas peran keagamaan yang dijalankan.

Sebutan Apak

Beberapa pihak (umat dan masyarakat) terkadang juga menyebut Cai Ma dengan sapaan Apak.

Hubungan dengan Agama Buddha

Kelompok ini tidak terikat secara penuh dengan lembaga resmi Buddha Mahayana arus utama. Praktik mereka dikategorikan sebagai folk Buddhism (agama Buddha rakyat) yang berakulturasi dengan kepercayaan tradisional Tionghoa.

Dilema Keuangan dan Kebutuhan Operasional

  • Realita Lapangan: Secara teori, jasa pendoa Cai Ci / Cai Ma bersifat sukarela (gratis). Namun, mereka tidak menerima dana rutin seperti tradisi Kathina pada Sangha.
  • Kebutuhan Hidup: Mereka memerlukan biaya untuk kebutuhan sehari-hari di wihara (PLN, PAM, telepon, TV, pakaian, sekolah, makan-minum).
  • Aturan Vinaya: Mereka tidak terikat aturan Vinaya seperti Sangha, melainkan sekelompok umat biasa.
  • Penerapan Tarif: Umumnya umat hanya datang meminta bantuan saat dalam situasi duka (kematian). Demi menjaga kemandirian operasional wihara dan keberlangsungan hidup para pendoa, lembaga Cai Ci akhirnya menetapkan tarif tertentu untuk pelayanan kedukaan.

Catatan Sejarah: Dahulu, ketika masih ada donatur tetap (seperti Almarhum A dan B) yang rutin menyokong kebutuhan wihara (uang, makanan, lilin, hio, kertas kim coa), jasa pelayanan doa dapat diberikan secara cuma-cuma.

Kedudukan Kelembagaan dalam Buddhisme

Berdasarkan diskusi dengan Bhikshu dan Bhikshuni senior, tatanan umat Buddha yang resmi/formal dalam kanon Buddhisme terdiri dari:

  1. Bhikshu / Bhikshuni (Terikat aturan resmi Vinaya Pitaka)
  2. Sramanera / Sramaneri (Terikat aturan resmi Vinaya Pitaka)
  3. Upasaka / Upasika (Umat awam yang memiliki panduan norma/vinaya awam)
  4. Istilah "Viharawati": Tidak ditemukan dalam kanon Buddhisme internasional dan hanya digunakan secara khusus di Indonesia.
  5. Status Cai Ci: Cai Ci secara struktur tergolong sebagai Upasika (umat awam) yang berperan sebagai pendoa. Mereka menjalankan aturan internal wihara yang disusun oleh Cai Ci senior (Cai Ma).
  6. Kesimpulan: Lembaga Cai Ci bukanlah institusi keagamaan resmi yang dibentuk oleh Sangha Mahayana. Meski demikian, atas dasar pengabdian, jasa, dan pelayanan keagamaan yang mereka berikan, keberadaan serta kehidupan para Cai Ci sangat layak untuk kita dukung bersama.