CENG BENG / QING MING
Secara umum, masyarakat terdahulu sering mengibaratkan tiga persembahyang besar sebagai waktu makan:
- Sembahyang Ceng Beng (Qing Ming): Diibaratkan sebagai makan pagi.
- Sembahyang Cit Gwe: Diibaratkan sebagai makan siang.
- Sembahyang Sin Cia (Tahun Baru Imlek): Diibaratkan sebagai makan malam.
Namun, perlu diingat bahwa hal tersebut adalah tradisi. Tradisi dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri seiring berjalannya zaman, sedangkan nilai-nilai dasar persembahyang itu sendiri tetap bertahan.
Bagi keluarga kami, pelaksanaan persembahyang Ceng Beng, Cit Gwe, maupun Sin Cia selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga. Makanan persembahan tidak harus selalu dimasak sendiri—membeli yang sudah jadi pun tidak masalah. Yang terpenting, menu persembahan tidak memberatkan kondisi perekonomian keluarga, sebab inti dari persembahyang adalah rasa hormat dan bakti.
Menu persembahan Sembahyang untuk keluarga saya adalah :
- Saji Modern & Favorit: McDonald's, Sushi Tei, Kopi Kenangan / Nescafe 3 in 1.
- Masakan Rumahan & Nusantara: Sayur asem, semur jengkol, sayur besan / sayur lodeh, tempe goreng, dan bakso goreng.
- Pelengkap: Buah-buahan segar, air putih, teh, serta arak.
- Sajian Sam Seng:
- Babi panggang siap saji
- Ikan bandeng presto
- Ayam goreng (Kalasan / Mbok Berek
Dalam penataan altar persembahyang keluarga, posisi foto leluhur disesuaikan dengan prinsip keseimbangan Yin (Im) dan Yang:
- Ibu (Posisi Kanan): Berada di sebelah kanan Ayah (sisi lengan kanan Almarhum). Perempuan merupakan simbol dari unsur Yin / Bulan.
- Ayah (Posisi Kiri): Berada di sebelah kiri Ibu (sisi lengan kiri Almarhumah). Laki-laki merupakan simbol dari unsur Yang / Matahari.
Admin

