CIT GWE

CIT GWE

SEMBAHYANG CIT GWE  Itu bukan  SEMBAHYANG CIOKO Banyak orang menganggap…

SEMBAHYANG CIT GWE  Itu bukan 

SEMBAHYANG CIOKO

Banyak orang menganggap Sembahyang Cit Gwe dan Cioko adalah hal yang sama, padahal keduanya memiliki fokus dan waktu pelaksanaan yang berbeda:

  • Sembahyang Cit Gwe / Bulan Tujuh (Tanggal 1–14): Merupakan sembahyang khusus untuk leluhur pribadi (mendiang) atau guru yang dilakukan di rumah oleh anak, cucu, dan menantu. Sembahyang ini memastikan kakek-nenek, orang tua, atau guru yang telah meninggal tidak terlantar karena terus diingat oleh keturunannya.
  • Sembahyang Cioko / Cit Gwe Pua / Qi Yue Ban (Tanggal 15–30): Dikenal juga sebagai Sembahyang Rebutan/Rampas, Keng Ho Peng, Ullambana, atau Chau Tu. Tradisi ini biasanya dilaksanakan di halaman vihara/kelenteng dan dipimpin oleh Rohaniwan. Sembahyang ini ditujukan untuk arwah terlantar (arwah yang mati terbunuh, kecelakaan, musibah, bunuh diri, atau sebatang kara).

Sarana dan Tata Cara Sembahyang

1. Perlengkapan dan Persembahan di Rumah

  • Foto / Papan Nama: Foto atau papan nama mendiang.
  • Hio Merah: 2 batang (simbol Yin dan Yang) atau 3 batang (simbol bahwa mendiang telah dihormati sebagai pelindung intern keluarga).
  • Lilin Merah: 2 buah dipasang di kiri dan kanan (lambang keselarasan Yin dan Yang).
  • Bunga: Vas berisi bunga segar (opsional/boleh tidak ada).
  • Minuman: 1 atau 3 cangkir berisi air, teh, atau arak (simbol Tian-Di-Ren / Langit - Bumi - Manusia).
  • Buah & Makanan: Disajikan secukupnya sesuai kemampuan finansial keluarga.
  • Gin Coa (Kertas Perak): Dibakar pada akhir prosesi sebagai simbol bahwa doa telah selesai dipanjatkan.

2. Urutan dan Ritual Sembahyang

  • Tiam Hio (Menyalakan Hio): Sembahyang selalu didahului dengan menyalakan 1, 3, atau 9 batang hio yang ditujukan kepada Tian (Alam Semesta), Para Buddha, Bodhisattva, dan Sinbeng.
  • Penggunaan Altar Khusus Cioko di Vihara/Kelenteng:
    • Ksitigarbha Bodhisattva (Di Zang Wang Pu Sa): Bodhisattva Pembimbing/Pengawal Alam Neraka.
    • Avalokitesvara Bodhisattva (Wujud Da Shi Ye): Perwujudan Posat Welas Asih dalam wujud raja hantu untuk merangkul para preta (hantu kelaparan).
    • Tai Sui Ya: Dewa Penguasa Tahun yang mengatur peredaran waktu dan energi agar terhindar dari ciong (kesialan/benturan shio).
    • Yue Lao Wang (Giam Lo Ong): Raja/Dewa Pengawal Akhirat.

3. Makanan Eks Persembahyang dan Tradisi Sosial

  • Cia Peng An (Makan Berkah): Semua makanan dan minuman bekas persembahyangan boleh dikonsumsi oleh keluarga atau didanakan kepada yang membutuhkan. Tidak ada larangan untuk memakannya.
  • Tradisi Rebutan & Bakti Sosial: Pengurus vihara/kelenteng biasanya mempersilahkan masyarakat (terutama yang kurang mampu) untuk mengambil persembahan makanan/minuman (Rebutan), atau membagikan paket sembako dari hasil penggalangan dana.

Catatan Tambahan

Beberapa pihak mungkin melaksanakan kedua sembahyang ini secara bersamaan atau di luar tanggal yang lazim. Hal tersebut tidak menjadi masalah, karena hakikat utama dari Sembahyang Bulan Tujuh adalah penghormatan, pelimpahan jasa, serta doa tulus agar mendiang leluhur memperoleh kedamaian dan kebahagiaan di alamnya masing-masing.

Admin