Sejak kecil, Han Boyu dididik dengan disiplin keras oleh ibunya. Setiap kali berbuat salah, ia dihukum pukulan rotan agar ia belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Sepanjang masa kecilnya, Han Boyu selalu menerima hukuman tersebut dengan tabah dan tanpa pernah mengeluarkan air mata sedikit pun.
Suatu hari saat ia sudah dewasa, ibunya kembali menghukumnya karena sebuah kesalahan. Kali ini, Han Boyu justru menangis tersedu-sedu saat menerima pukulan tersebut. Sang ibu merasa heran dan bertanya dengan cemas, "Selama ini kamu tidak pernah menangis saat aku pukul, mengapa sekarang kamu menangis? Apakah pukulanku kali ini terasa terlalu sakit?"
Sambil menahan isak tangisnya, Han Boyu menjawab dengan lembut, "Dulu, saat Ibu memukul saya, saya selalu merasakan tenaga Ibu masih sangat kuat sehingga saya tahu Ibu dalam keadaan sehat dan bugar. Hari ini, saat Ibu memukul saya, saya merasa tenaga Ibu sudah sangat lemah. Saya menangis bukan karena rasa sakit di tubuh saya, melainkan karena saya menyadari bahwa Ibu sudah semakin tua dan fisik Ibu mulai melemah."
Mendengar jawaban yang penuh ketulusan tersebut, sang ibu pun terharu dan berhenti memukulinya. Kisah ini kemudian dikenal luas sebagai salah satu teladan bakti seorang anak yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peka terhadap kondisi serta kesehatan orang tuanya.
Pesan moral:
Peka terhadap bertambahnya usia orang tua.

