HWEE HIANG KI

HWEE HIANG KI Goan Seng Se Hong Ceng To Tiong,…

HWEE HIANG KI Goan Seng Se Hong Ceng To Tiong, Kiu Pin Lian Hoa Ui Hu Bo, Hoa Kai Kian Hut Gouw Bu Seng, Put Twe Po Sat Ui Poan Lie... (3x)

HUI XIANG CI

Yuen Sen Si Fang Cing Thu Cung Ciu Phing Lien Hua Wei Fu Mu Hua Khai Cien Fo U Wu Sen Pu Thui Phu Sa Wei Pan Li

ARTI

Semoga di tanah suci sebelah barat kudapat menjelma Bunga seroja 9 tingkat sebagai ayah bunda Bunga mekar berjumpa Hyang Buddha menginsafi akan tiada yang menjelma Tak akan mundur Bodhisatva senantiasa mendampinginya

Tadyata Aum Gate Gate Paramgate Parasamgate Bodhi Svaha... (3x)

Menyeberanglah, menyeberang ke pantai bahagia hingga mencapai Bodhi... (3x)

KONSEP KEMATIAN

Salah satu perbedaan antara agama samawi (wahyu) dan non-samawi (non-wahyu) adalah konsep tentang kematian. Agama non-samawi di antaranya Buddha, Khonghucu, dan Tao alias Tridharma.

Konsep Buddhis & Taois tentang kematian adalah bahwa kematian bukan akhir kehidupan, justru kematian adalah awal kehidupan. Setelah kematian akan timbul kelahiran baru karena semua makhluk hidup yang meninggal akan terlahir ke alam baru sesuai karmanya masing-masing. Itulah ajaran tentang Punarbhava / Tumimbal Lahir / Cut Si / Kelahiran Kembali.

SIMBOL KEMATIAN

Maka dari itu, sebagai salah satu simbol kematian, pihak keluarga yang berduka dan tamu yang melayat biasanya mengenakan pakaian putih, atau setidaknya bukan hitam, merah, ungu, oranye, kuning, atau warna-warna cerah karena itu simbol kegembiraan.

Putih adalah layaknya kelahiran kembali membuka lembaran baru di alam baru, sehingga menggunakan:

  • Pakaian putih
  • Lilin putih
  • To wi / taplak meja putih
  • Hio hijau (bukan hio merah)
  • Gin Coa / kertas perak (bukan Kim Coa / kertas emas)
  • Dll.

KEMATIAN BUKAN AKHIR KEHIDUPAN

Kematian pasti datang karena siapa pun bisa mati. Kematian bisa datang kapan saja:

  • Tidak harus tua
  • Tidak harus sakit
  • Tidak harus miskin
  • Dll.

Justru kehidupan itu yang tidak pasti.

Maka kalau kematian datang, almarhum/almarhumah sesuai kepercayaan kita akan Cut Si / Tumimbal Lahir / Lahir Kembali ke alam lain sesuai karma masing-masing.

UCAPAN DUKA

Maka yang agak lucu kalau ada umat Buddha yang bilang:

  • "Semoga alm/almh berbahagia karena sudah tidak sakit lagi."
  • "Semoga alm/almh diterima di sisi Tuhan." (Lha, kan konsep ketuhanan dalam Buddha, Khonghucu, dan Tao itu berbeda dengan konsep dalam agama samawi?)
  • "Semoga alm/almh mencapai Nirwana." (Emang sudah jadi Arahat?)
  • Dll.

Terus apa dong yang harus diucapkan? Ya netral saja, tidak usah cocokologi dengan agama lain. Kalau ada di agama lain, tidak harus ada di agama kita.

Ucapan yang netral adalah: Turut berduka cita.

UPACARA DUKA BERBEDA DI TIAP DAERAH

Upacara duka di tiap daerah itu tidak sama. Acapkali juga menyesuaikan / berakulturasi dengan budaya lokal, di samping sub-suku orang Tionghoa juga berbeda-beda.

Ketika tahun 1940-an, Kwee Tek Hoay ingin menyeragamkan upacara kematian tersebut tetapi gagal. Jadilah demikian hingga sekarang.

BAKAR REPLIKA RUMAH

Upacara bakar replika rumah dll. itu tidak salah kalau keluarga berduka ekonominya mampu. Namun juga tidak wajib bagi keluarga yang ekonominya tidak mampu. Apalagi sekarang juga ada bakar replika mobil, HP, dan laptop.

MENU SEMBAHYANG

Demikian juga menu persembahyangan:

  • Mau menu Cia Cai, ok.
  • Mau menu non-Cia Cai, juga ok.
  • Mau buah impor, ya ok.
  • Mau buah lokal, ya ok.

Silakan sesuai dengan kemampuan ekonomi + kesepakatan keluarga. Jangan ribut. Yang penting menu tersebut dipersembahkan dengan layak, tulus, ikhlas, dan penuh penghormatan kepada almarhum/almarhumah.

SEMBAHYANG 3 HARI ATAU 7 HARI

Kelaziman kaum Tionghoa, upacara sembahyang 3 hari / 7 hari / 49 hari / 100 hari itu dihitung dari hari kubur atau kremasi.

Sedangkan upacara sembahyang 1 tahun / 3 tahun itu dihitung dari hari kematian menurut penanggalan Imyanglek (lunar), bukan kalender solar. Tapi biasanya karena menyesuaikan situasi dan kondisi anggota keluarga, maka dipilih hari Sabtu / Minggu terdekat.

HIO HIJAU

Untuk sembahyang kepada almarhum/almarhumah biasanya menggunakan 2 hio hijau sebagai simbol dari:

  • Yin & Yang
  • Negatif & Positif
  • Ibu & Ayah
  • Bulan & Matahari
  • Malam & Siang
  • Lembut & Keras
  • Pendek & Panjang

Ada juga keluarga duka yang menggunakan 3 hio merah, itu sebagai simbol bahwa keluarga duka menganggap almarhum/almarhumah sudah jadi Dewa / Dewi bagi keluarga yang bersangkutan. Itu tidak salah.

BAJU TOA HA

Keluarga duka biasanya memakai toa ha, tapi situasi dan kondisi sekarang banyak yang diganti dengan atasan kaos putih.

Ada juga yang memakai kaos merah karena almarhum/almarhumah sudah berusia 70 tahun / 80 tahun. Sebenarnya patokan memakai pakaian duka warna merah itu bila almarhum/almarhumah sudah mencapai 5 generasi, yaitu:

  1. Kakek - Nenek
  2. Ayah - Ibu
  3. Anak
  4. Cucu
  5. Cicit

CAI MA / CAI CI

Dalam upacara duka kita suka melihat bahwa keluarga mengundang Cai Ma (yang lebih senior) / Cai Ci (yunior) untuk berdoa kepada almarhum/almarhumah.

Banyak yang salah kaprah. Cai Ma / Cai Ci itu adalah regu doa agama Buddha yang biasanya dibacakan dalam bahasa Mandarin / Hakka / Khe.

Demikianlah sependek pengetahuan saya. Di tiap daerah bisa berbeda, tidak apa-apa.

🙏🙏🙏
Admin