Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur
KENG TI KONG / JING TIAN GONG / SEMBAHYANG TEBU
Sembahyang Keng Tikong ( King Thi Kong / Jing Tian Gong 敬 天 公 ) yang diadakan pada Cia Gwe Ce Kaw ( tanggal 9 bulan 1 Im Yang Lek ) adalah upacara persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa ( yang dimanifestdikan sebsgsi Kaisar Langit / Kaissr Pualan / Ksisar Giok / Giok Hong Siong Te / Yi Huang Da Di ) dalam tradisi masyarakat Tionghoa, khususnya suku Hokkien.
Ritual ini memiliki makna religius dan historis yang sangat mendalam.
WAKTU PELAKSANAAN
Meskipun disebut sembahyang tanggal 9 Im Yang Lek ( Cia Gwe Ce Kauw ), ritual utama dimulai sejak tanggal 8 Im Yang Lek ( Cia Gwe Ce Pek ) tengah malam ( pukul 23.00 - 00.00 ) saat memasuki hari ke-9.
ASAL USUL & SEJARAH
Di Indonesia, ritual ini sangat populer dengan sebutan Sembahyang Tebu.
Berdasarkan sejarah/legenda suku Hokkien, nenek moyang mereka selamat dari kejaran pasukan penyerang karena bersembunyi di dalam perkebunan tebu.
Mereka berhasil keluar dengan selamat tepat pada tanggal 9 Im Yang Lek, yang kebetulan juga merupakan hari kebesaran Kaisar Langit.
Sebagai rasa syukur atas perlindungan Tuhan ( Ti Kong ), mereka mengadakan sembahyang besar dengan mempersembahkan batang tebu di kiri-kanan meja altar.
MAKNA & TRADISI
Bagi orang Hokkien, hari ke-9 Im Yang Lek ini sering dianggap sebagai "Tahun Baru yang sesungguhnya".
Sembahyang ini dianggap sebagai penentu langkah, keberkahan, nasib baik, dan perlindungan bagi seluruh keluarga untuk setahun ke depan.
Sebelum sembahyang dimulai, anggota keluarga biasanya melakukan mandi keramas, mengenakan baju bersih/baru, bahkan berpuasa makan daging ( vegetarian / cia cay ) sejak hari ke-4 Imlek.
Altar sembahyang diletakkan di area terbuka yang langsung menghadap ke langit ( halaman rumah atau balkon ) karena ditujukan langsung kepada Sang Pencipta.
Tradisi Sembahyang Keng Ti Kong
( 敬 天 公 )
Secara umum, orang Tionghoa biasa menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai Tian Kong ( Tian Gong ) atau Ti Kong, yang juga dimanifestasikan sebagai Giok Hong Siang Te / Yi Huang Da Di / Huang Tian Shang Di ( 皇 天 上 帝 ).
Sebenarnya Tuhan itu sendiri tak dapat dijangkau oleh daya pikir / nalar umat manusia yang terbatas, juga tidak dapat dijelaskan melalui ucapan dan tulisan yang amat sangat terbatas, namun melalui penciptaan-Nya kita mempercayai adanya SATU TUHAN, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Percaya dan hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa telah ada sejak 5.000-an tahun yang lalu pada zaman 五 帝 Wu Di ( Ngo Tee = 5 Kaisar Kuno, tahun 2952 – 2205 SM ).
Tradisi Sembahyang Keng Ti Kong ( 敬 天 公 ) ini turun temurun hingga sekarang, itulah sebabnya setiap tahunnya pada tanggal 9 bulan 1 Im Yang Lek, orang Tionghoa terutama orang Hokkian, melakukan upacara sembahyang Keng Ti Kong ( 敬 天 公 ) yang dalam Bahasa Mandarin dilafalkan Jìng Tiān Gōng berarti sembahyang kepada Tuhan yang disebut juga perayaan Tahun Baru orang Hokkian.
Upacara sembahyang Keng Ti Kong ini telah meluas dan bisa dilakukan mulai dari kalangan atas sampai ke golongan masyarakat yang paling bawah atau orang-orang miskin sekalipun, seperti petani, pedagang dan lain-lain.
Wilayah Tiongkok yang menyelenggarakan upacara ini adalah propinsi Fujian dan Taiwan.
Upacara ini juga diadakan di tempat-tempat lain yang didiami oleh komunitas yang leluhurnya berasal dari kedua propinsi tersebut.
Di Propinsi 福 建 Fu Jian ( HokKian ) dan 臺 灣 Taiwan muncul istilah yang sangat populer, yaitu 初 九 天 公 聖 Chu Jiu Tian Gong Sheng, yang berarti bahwa pada Cia Gwe Cwe Kauw ( Tanggal 9 bulan pertama Im Yang Lek) adalah Hari Ulang Tahun Ti Kong.
Upacara Keng Ti Kong ini disebut juga dengan istilah Sembahyang Tebu.
Sehingga masyarakat di propinsi Hokkian dan Taiwan mengadakan sembahyang khusus untuk menghormati Tikong ( Tuhan ).
Upacara Keng Ti Kong ini juga telah menyebar di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Saat ini yang sembahyang Keng Ti Kong, bukan hanya orang Hokkian saja, tapi sudah menyebar dengan suku Tionghoa lainnya seperti Tio Ciu, Kong Hu, Hakka dll.
Persiapan Upacara Keng Tikong
Upacara Keng Tikong dapat diselenggarakan secara sederhana atau lengkap, yang terpenting adalah ketulusan dan kesuciannya, bukan kemewahannya.
Sembahyang Keng Tikong ini biasanya dilakukan pada Cia Gwe Ce Pwe ( Tanggal 8 bulan 1 Im Yang Lek ) tengah malam pukul 12 yang berarti sudah masuk Cia Gwee Ce Kauw ( Tanggal 9 bulan 1 im Yang Lek ).
Yang melaksanakan ritual Keng Ti Kong adalah orang yang sebaiknya sudah berpantang makanan berjiwa atau vegetarian / cia cay sejak hari ke 4 bulan 1 sampai dengan hari ke 9 bulan 1.
Pantang makan daging merupakan syarat, karena dahulu para warga yang bersembunyi ke kebun tebu itu sama sekali tidak mengonsumsi daging.
Pagi hari di hari ke 9, upacara dimulai oleh anggota keluarga tertua ( kakek ) atau kepala keluarga ( suami, ayah ).
Upacara Keng Ti Kong dipandang terpenting dalam rangkaian upacara Sin Cia karena merupakan kunci dan penentu semua langkah kehidupan bagi seluruh anggota keluarga di tahun yang akan dijalani.
Penduduk yang miskin cukup menempatkan sebuah Hiolo ( tempat menancapkan dupa ) kecil yang digantungkan di depan pintu rumahnya dan menyalakan hio ( dupa ) dari pagi sampai tengah malam secara terus menerus.
Bagi orang berada, acara sembahyang ini merupakan hal yang paling megah dan khidmat.
Hal-hal yang dapat mengingatkan orang Tionghoa kepada pengalaman leluhurnya waktu itu, biasanya diikut sertakan dalam tata-cara sembahyang Keng Ti Kong, misalnya :
- Sebuah Meja sembahyang Keng Tikong dengan taplak meja warna merah. Meja altar biasanya diletakkan di atas dua atau empat bangku kecil.
Hal ini disebabkan sewaktu pertama kali mengadakan sembahyang Keng Tikong sebagai rasa syukur, leluhur mereka tidak memiliki meja khusus dan leluhur juga mempercayai bahwa pemujaan kepada Tikong ( Tuhan ) harus di atas pemujaan biasa ( melakukan penghormatan di atas kepala ).
Itulah sebabnya maka meja yang biasa ( pendek ) diberi ganjal bangku supaya menjadi lebih tinggi.
- Sepasang tebu yang diikatkan di sebelah kanan dan kiri sisi meja, biasanya diikatkan sebatang tebu yang masih utuh ( ada akar sampai ujung daunnya ). Ada juga sebagian yang memotong tebu menjadi 9 bagian untuk disajikan dalam sembahyang syukur ini.
Hal ini untuk mengingatkan saat leluhur dikejar-kejar pasukan Manchuria dan bersembunyi di kebun tebu.
Selain itu, tebu yang masih utuh juga melambangkan hidup manusia, bahwa kesuksesan seseorang harus dibangun dengan akar yang kuat ( akar tebu ), melalui berbagai rintangan dan pengalaman hidup ( ruas tebu ) sampai tercapainya kesuksesan ( daun tebu yang menjulang tinggi ).
- Lilin merah besar sepasang ( 2 batang ) dipasang di depan altar meja sebelah kiri dan kanan.
- Tiga buah cawan kecil yang berisi teh / air
- Tiga buah mangkuk yang berisi misoa yang diikat dengan kertas merah.
- Wajik biasanya disajikan dalam bentuk gunungan seperti tumpeng, yang bermakna agar keberuntungan nya menggunung, dan melambangkan Hok Lok Siu ( Fu Lu Shou).
- Kue mangkok ( Huat kueh ) yang bentuknya selalu merekah pada bagian atasnya, bermakna agar hidupnya berkembang dan melambangkan kemakmuran atau Hok Lok Siu ( Fu Lu Shou ).
- Kue keranjang ( Nian Gao / 年 糕 ), yang bermakna agar kehidupan selalu manis dan melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan untuk tahun-tahun berikutnya.
- Kue Khu, yang cetakannya berbentuk kura-kura, yang bermakna agar hidupnya panjang usia seperti kura-kura dan melambangkan Hok Lok Siu (Fu Lu Shou).
- Lima jenis Buah-buah an dan enam macam masakan vegetarian yang disebut Wu Guo Liu Cai ( 五 果 六 菜 ) atau Go Ko Lak Chai dalam bahasa Hokkian, diatur di bagian depan altar meja. Ini menjadi dasar utama dalam penataan barang sajian upacara sembahyang orang Tionghoa.
- Masakan dari tiga macam hewan (Sam Seng / San Xing) atau lima macam hewan ( Ngo Seng / Wu Xing ), dimana sajian Sam Seng atau Ngo Seng itu sebenarnya ditujukan untuk para malaikat pengawal Tian / Tikong / Tuhan.
- Kim Cua dan Tikong Kim ( kertas emas ) biasanya dilipat dan ditumpuk secara bertingkat keatas.
Cara Sembahyang Keng Ti Kong
- Sembahyang dilakukan tepat pukul 12 tengah malam ( Cia Gwe Ce Kauw).
- Semua orang melakukan San Gui Jiu Kou ( 三 跪 九 叩 ) atau Sam Kwi Kiu Kho dalam bahasa Hokkian yaitu 3 kali berlutut dan 9 kali menyentuhkan kepala ke tanah.
- Setelah selesai baru kemudian kertas emas ( kertas sembahyang ) yang dibuat khusus itu lalu dibakar.
- Setelah kertas emas ( Kim Coa ) ini dibakar, maka anggota keluarga kemudian mengambil sepasang batang tebu dari altar ( Umumnya cuma dipotong bagian atas pucuk tebu saja ) dan melemparkannya ke dalam api.
- Petasan dinyalakan untuk mengantar kepergian para malaikat pengiring, yang melambangkan atau menandai awal dari hari kesembilan serta kelangsungan hidup orang-orang Hokkian.
Disini jelaslah bahwa orang Tionghoa mempercayai adanya Tuhan sebagai penguasa tertinggi di jagat raya ini.
Hanya saja konsepsi ke-Tuhan an ini berbeda dengan agama-agama lain, sebab bagi orang Tionghoa, Tuhan atau Tian / Tikong adalah Pencipta yang Esa.
SALAH KAPRAH
Banyak warga Tionghoa Peranakan di Indonesia mengartikan Sembahyang Keng Tikong sebagai Sembahyang Tuhan Allah.
Kesalahan tersebut mungkin karena terpengaruh dengan zaman kolonial dimana mulai masuk nya kaum nasrani.

Tks
🙏🙏🙏
Admin

