Bagi komunitas Tionghoa, apa pun agamanya, kebanyakan masih merayakan:
- Sin Cia / Xing Nien / Ko Nyan & Cap Go Meh
- Keng Ti Kong / Tao / Tuhan / Alam Semesta pada Cia Gwe Ce Kauw
- Qing Ming / Ceng Beng / Ziarah Kubur
- Pe Cun / Bak Cang
- Qi Yue / Cit Gwe / Bulan Tujuh & Cioko / Rampas - Rebutan
- Zhunzu / Tiong Ciu / Pertengahan Musim Gugur
- Dhongzi / Tangce / Musim Dingin Tiba / Onde - Ronde
Semua perayaan tersebut selalu ada tradisi berbagai menu makanan yang disajikan dalam persembahyangan kepada Buddha / Bodhisatva / Shenming / Sinbeng / Dewa-Dewi sebagai bentuk penghormatan + kerukunan + kebersamaan keluarga. Semua perayaan tersebut tidak ada yang melanggar Dharma Hyang Buddha & Pancasila Buddhis.
Masing-masing daerah di Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, & Papua tentu punya kebiasaan yang berbeda karena terjadi akulturasi (percampuran) dengan budaya lokal. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang paling benar.
Dengan sendirinya, karena berjalan sesuai waktu & zaman, ya secara natural banyak menu persembahan yang berubah. Sulit bagi suatu daerah memaksakan kehendak bahwa menu dalam persembahan harus ikut tradisi 100 / 1000 tahun lalu di Tiongkok. Beberapa perubahan yang berakulturasi dengan budaya lokal adalah ragam menu persembahan di altar.
Saat ini:
- Kalau kita ke rumah duka, pada umumnya hanya disemayamkan 3 hari. Sudah jarang yang 7 hari.
- Lempar bantal almarhum/almarhumah ke atas atap rumah & bakar kayu di halaman muka depan teras rumah sebagai tanda duka. Masih ada?
- Rumah-rumahan kertas sekarang sudah banyak yang minimalis.
- Buang Gin Coa sepanjang perjalanan ke pemakaman / krematorium. Ini sudah hampir punah.
- Pakaian duka / Toaha hampir punah.
- Menu makanan persembahan sudah ada yang hanya terbuat dari kertas / dummy.
- Gotong peti selama perjalanan ke pemakaman / krematorium sudah punah.
- Penggunaan sikap Soja / Anjali saat Sin Cia / Xing Nien. Ini sudah hampir punah.
- Panggilan kekerabatan dalam keluarga, akan menyusul punah.
- Dll.
Khusus perayaan tersebut, ada yang bilang harus ada ini, harus ada itu, kudu begini, kudu begitu. Several teman bertanya ke saya:
"Romo, boleh tidak begini? Boleh tidak begitu? Harus begini? Harus begitu?"
Saya jawab:
"Boleh."
Ditanya lagi:
"Kok boleh? Katanya harus begini."
Saya jawab:
"Ya jangan tanya saya, ikuti saja yang bilang 'katanya'."
Yang mesti tetap dilestarikan adalah memahami & melaksanakan makna esensial dari perayaan tersebut.
Yang hendaknya dilaksanakan adalah menggunakan:
- Dua batang hio merah sebagai simbol Yin & Yang (ayah & ibu). Ada yang menggunakan tiga batang hio merah karena almarhum/almarhumah/leluhur sudah dianggap sebagai dewa-dewi pelindung keluarga.
- Dua buah lilin merah sebagai simbol Yin & Yang (ayah & ibu)
- Air / Teh / Arak
- Buah secukupnya
- Bunga (kalau ada)
- Kertas Gincoa / Kertas Perak untuk dibakar di akhir persembahyangan sebagai pertanda bahwa persembahyangan sudah selesai.
Terus ada yang bilang bahwa menu persembahan tidak boleh dimakan.
Hah??? Lalu dibuang???
Ya tidak lah. Boleh dimakan bersama anggota keluarga sebagai makanan berkah (Cia Peng An). Makanya saat persembahyangan besar / inti, saya selalu mempersembahkan menu makanan yang bisa dimakan & disukai keluarga seperti:
- Babi Panggang (matang)
- Ayam Goreng Kalasan / Mbok Berek (matang)
- Ikan Bandeng Presto (matang)
- Sayur Asem / Sayur Lodeh
- Semur Jengkol
- Tahu & Tempe Goreng
- Ayam Goreng
- Mie Goreng
- Sambel Godok
- Kopi Kenangan / Janji Jiwa
- KFC / McD
- Sushi Tei
- Kue-kue Jajanan Pasar
- Dll.
Semua menu adalah makanan yang bisa dan enak untuk dimakan bersama keluarga. Tidak ribet, kan?
Bagi keluarga yang mau bertahan dengan tradisi sembahyang yang sama dengan 100 / 1000 tahun lalu, ya tidak apa-apa, silakan saja. Tidak salah kok.
Jadi yang bagusnya bagaimana?
Ya, terserah mau ikut yang mana. Silakan Anda sekeluarga mendiskusikan terus memutuskan. Orang yang tercabut dari akar budayanya biasanya tidak memiliki pondasi yang kokoh.
Atau ada yang mau punya budaya Cindo yang 100% baru dan mandiri?
🙏🙏🙏
Admin

