Banyak mitos seputar kematian yang kita dengar sejak dahulu. Kita tidak tahu pasti apa penyebab mitos tersebut muncul, tapi pasti ada alasannya. Mitos tersebut tidak bisa dibilang benar atau salah, tidak ada penghakiman. Kalau masih percaya ya silakan, tidak juga tidak apa-apa.
Sependek pengetahuan yang saya tahu:
- Beli peti mati: Kalau beli peti mati yang sudah ditunjuk, katanya tidak boleh ditawar. Ini tidak tepat juga, jadi tawar saja sesuai kemampuan kita.
- Pakaian saat berduka: Selama masa berduka harus pakai baju terbalik? Ini juga terkondisi. Selama berduka, kita utamanya menghindari pakaian yang menunjukkan kegembiraan seperti baju merah, oranye, kuning, serta perhiasan.
- Menonton hiburan: Selama masa berduka tidak boleh menonton TV atau film. Ini kalau kita lihat suasana lagi ramai, ya memang tidak pantas.
- Bertamu ke rumah orang lain: Sebagai keluarga berduka tidak boleh bertamu ke rumah lain karena nanti rumah tersebut bisa sial. Ya, ini masalah kepercayaan tuan rumah. Kita harus memahaminya dengan memberi kabar terlebih dahulu.
- Ibadah ke tempat suci: Selama berduka, keluarga tidak boleh sembahyang atau kebaktian ke wihara dan kelenteng. Tidak apa-apa, kan orang berduka perlu sembahyang atau kebaktian untuk mendapat ketenangan.
- Bertemu ambulans/mobil jenazah: Kalau kita bertemu mobil atau ambulans jenazah di jalan raya, kita harus tepuk-tepuk dompet uang supaya tidak kaget dan isinya tidak berkurang. Mau dompet terisi uang? Ya usaha dan kerja.
- Cuci muka setelah dari rumah duka: Kalau pulang dari rumah duka harus cuci muka. Maksudnya supaya kita segar dan membersihkan muka karena khawatir ada virus atau bakteri yang ikut kita.
- Membuang tanda terima kasih: Tanda terima kasih dari rumah duka harus kita buang di jalan saat pulang supaya kesialan tidak ikut ke rumah. Ini juga kepercayaan yang boleh diikuti, boleh juga tidak. Sial atau untung kan tergantung Karma + Co Ho Sim + Co Kong Tek yang kita lakukan.
- Barang peninggalan almarhum/almarhumah: Semua barang atau pakaian milik almarhum/almarhumah harus dimasukkan ke dalam peti mati. Lebih baik didanakan kepada orang yang membutuhkan. Kalau perhiasan, boleh kita simpan sebagai kenang-kenangan.
- Tutup altar dewa-dewi: Selama keluarga berduka dan jenazah belum dikubur atau dikremasi, altar dewa-dewi/sinbeng & leluhur harus ditutup kain merah. Justru kita harus pai-pai sebagai laporan tentang kedukaan sekaligus mohon berkah supaya berada di jalan yang terang. Kalau bisa, buka altar dewa-dewi/sinbeng/Bodhisatva/Buddha di samping meja abu almarhum/almarhumah.
- Kehadiran orang tua/pasangan di pemakaman: Bila anak meninggal terlebih dahulu, orang tua tidak boleh ikut ke kuburan atau kremasi. Ya ikut saja karena itu adalah momen kenangan. Begitu juga bila ada pasangan yang salah satunya meninggal terlebih dahulu, suami atau istri tentu boleh ikut.
- Menu persembahan & makanan altar: Sembahyang almarhum/almarhumah di meja abu harus ada menu ini-itu. Semua persembahan adalah baik bila dipersembahkan dengan rasa tulus, ikhlas, hormat, dan bakti. Boleh vegetarian, boleh non-vegetarian. Makanan eks-sembahyang tidak boleh dimakan? Kalau doyan dan suka ya makan saja, anggap Cia Peng An.
Seluruh mitos tersebut ada pada zaman dahulu tentu ada sebabnya, tetapi kemudian orang tua pada zaman sekarang tidak bisa menjelaskan secara logis. Mungkin apa yang kita anggap benar sekarang, suatu saat juga akan disebut takhayul oleh generasi mendatang. Setiap generasi memiliki akar budaya yang sesuai dengan zamannya.
Agama Buddha, Khonghucu, dan Tao harus kontekstual (kekinian) sesuai zaman dan ajaran sehingga tidak ditinggalkan oleh umat atau generasi muda.
Pada zaman sekarang, mitos-mitos seperti ini yang menyebabkan tetangga bilang agama Buddha / Khonghucu / Tao itu:
- Repot
- Ribet
- Bertele-tele
- Tidak praktis
- Perlu biaya banyak
- "Kalau orang susah mah jangan mati dulu deh, ngerepotin"
Lalu ada yang membujuk:
"Ikut saya saja. Tidak ribet, tidak repot, tidak keluar biaya besar. Kalau mati cukup nyanyi-nyanyi terus tabur bunga, selesai."
Kamu mau mati tidak ribet, tidak repot, dan tidak keluar biaya besar? Hubungi pengurus wihara atau kelenteng saja, biasanya dibantu kok. Bilang saja: "Bulan depan bila saya mati, tolong bantu ya."
Mitos apalagi yang ada di daerahmu?
🙏🙏🙏
Admin

