PEH CUN

PEH CUN

FESTIVAL PEH CUN (DUAN WU / DUAN YANG) & PEMAKNAAN…

FESTIVAL PEH CUN (DUAN WU / DUAN YANG) & PEMAKNAAN PATRIOTISME QU YUAN

1. TENTANG FESTIVAL PEH CUN

Sembahyang Peh Cun (dikenal juga sebagai Sembahyang Duan Yang / Duan Wu atau Dragon Boat Festival) diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Im-Yang Lek (Lunisolar). Pada tahun 2026, festival ini jatuh pada hari Jumat, 19 Juni 2026 (Go Gwe Ce Go).

Sajian Khas di Meja Altar:

  • Bakcang: Beras atau ketan berisian daging cincang/olahan rempah.
  • Kuecang: Ketan polos tanpa isian, disajikan bersama cocolan air gula manis.

Peruntukan Sembahyang:

  • Altar Leluhur
  • Altar Buddha / Bodhisattva (versi Vegetarian)
  • Altar Sinbeng (Kongco, Makco, Dewa-Dewi)

2. LEGENDA KUT GOAN (QU YUAN)

Peringatan Peh Cun erat kaitannya dengan penghormatan kepada Kut Goan (Qu Yuan), seorang negarawan dan penyair patriotik dari Kerajaan Chu pada zaman Dinasti Zhou (1046 SM – 256 SM)—dinasti terlama dalam sejarah Tiongkok.

3. REFLEKSI PATRIOTISME UNTUK INDONESIA

Sikap patriotik Qu Yuan tidak sekadar menjadi cerita sejarah, melainkan teladan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.

Realitas Kebhinekaan & Akulturasi:

  • Rajutan Bangsa: Indonesia berdiri di atas keberagaman suku dan latar belakang—mulai dari Jawa, Sunda, Madura, Padang, Batak, Aceh, Makassar, Manado, Papua, Flores, Bali, Dayak, Sasak, hingga keturunan Arab, Portugis, hingga Tionghoa.
  • Akulturasi Panjang: Kehadiran warga Tionghoa di Nusantara telah berlangsung hampir 1.000 tahun (tersebar di Kintamani, Lombok, Tangerang, Padang, Singkawang, Pontianak, dan daerah lainnya). Banyak warga Tionghoa yang telah berakulturasi sepenuhnya—baik secara budaya, bahasa, maupun penampilan fisik.

4. BENTUK BAKTI MASA KINI: EMPAT PANTANGAN & JALAN TENGAH

Di era modern, berbakti kepada bangsa tidak lagi harus dengan mengangkat senjata atau bambu runcing. Bentuk patriotisme nyata dapat diwujudkan melalui menjaga etika dan moralitas diri.

Menjauhi 4 Pantangan (Hal yang Tidak Susila):

  1. Jangan Dilihat
  2. Jangan Didengar
  3. Jangan Dibicarakan
  4. Jangan Dilakukan

Menerapkan Sikap Hidup:

  • Jalan Tengah (Chung Yung): Bersikap seimbang dan bijaksana tanpa jatuh ke dalam ekstrimisme.
  • Tepa Selira / Tenggang Rasa: Menjunjung tinggi empati sebagaimana pesannya:

"Apa yang tidak kamu inginkan orang lain lakukan kepadamu, janganlah kamu lakukan kepada orang lain." — Nabi Khong Hu Cu (Kongzi)

Prinsip luhur ini selaras dengan ajaran Hyang Buddha maupun Lao Zu (Laozi). Meski sederhana untuk diucapkan, melaksanakannya secara konsisten adalah tantangan sejati untuk membentuk pribadi yang Budiman / Susilawan.

admin