Umat Tridharma di berbagai daerah secara individu banyak yang bersembahyang di :
* Wihara / klenteng
* Altar Dewa-Dewi ( Sinbeng ) di rumah
* Altar Leluhur di rumah
Sebagai wujud penghormatan dan bakti sekaligus mencoba mencontoh teladan baik yang sudah diberikan.
Kebanyakan Umat Tridharma sadar bahwa memberi persembahan tersebut bukan semata-mata memberi makanan minuman kepada Sinbeng ( Dewa-Dewi ) dan Leluhur ( entah di alam mana mereka berada ) supaya fisik mereka sehat dan kuat.
Persembahan tersebut lebih kepada instrospeksi kepada diri sendiri agar :
1. Menata hati jadi lebih baik agar bermanfaat bagi sesama sebagaimana menata persembahan tersebut.
2. Persembahan tersebut adalah bentuk doa tanpa kata-kata, sebagaimana arti kata kata buah tersebut bila diucapkan dalam bahasa asli ( Hokkian, Halka, Teociu, Mandarin ) yang lafal pengucapan nya punya arti yang mirip jadi baik.
3. Membina kerukunan dan persatuan keluarga sambil kita :
* Merawat Etika
* Menjaga Budaya
* Menghormat Leluhur
Sehingga umat Tridharma kian mengenal jati diri dan tidak tercabut dari akar budaya yang merupakan identitas setiap manusia.
Umat Tridharma menyadari bahwa penghormatan dan bakti tentu harus dibarengi dengan prilaku :
1. Cinta Kasih
2. Kebenaran
3. Kesusilaan
4. Kebijaksanaan
5. Dapat Dipercaya
Dan senantiasa menghindari sesuatu yang tidak susila jangan :
1. Di lihat
2. Di dengar
3. Di ucapkan
4. Di lakukan
* Umat Tridharma bukan umat yang bodoh sehingga memahami bahwa persembahan-persembahan tersebut akan membuat para Dewa-Dewi ( Sinbeng ) dan Leluhur jadi kenyang karena memakan ( dengan cara menyedot sari persembahan tersebut ).
* Makanan minuman para Simbeng ( Dewa-Dewi ) dan Posat tidak sama dengan makanan / minuman manusia.
* Kalo pun makanan / minuman tersebut berubah rasa dan aroma itu dikarenakan sudah dingin + terjadi perubahan kimia karena tercampur dengan oksigen, hidrogen, asap dupa, asap lilin dll.
Sebagai mahluk yang entitasnya lebih rendah dari Dewa-Dewi ( Sinbeng ) dan Leluhur Baik maka adalah wajar bila berharap Tian ( Alam Semesta ) + Sinbeng dan Posat Po Pi tanpa keterikatan ( harapan imbalan berlebih ) dan bersifat barter.
Sehingga walau banyak kalangan bilang bahwa persembahyangan itu “merepotkan, ribet, tidak modern ( kuno ), takhayul, berbiaya relatif tinggi, dll”.
Gakpapa
Umat Tridharma tidak perlu validitas dari siapa pun untuk melakukan penghormatan dan bakti kepada Dewa-Dewi ( Sinbeng ) dan Leluhur.
Jangan lupa untuk bersembahyang ya !
🙏🙏🙏
Admin

