TRADISI KEMATIAN “NGO TAI”

Tradisi Ngo Tai ( 五 代 ) dalam budaya Tionghoa…

Tradisi Ngo Tai ( 五 代 ) dalam budaya Tionghoa ( terutama dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa Peranakan di Jakarta, Banten, Jawa Barat ) adalah ritual pemakaman yang dirayakan sebagai kabar sukacita.

Ritual ini dilakukan ketika mendiang meninggal di usia sangat lanjut dan telah memiliki lima generasi keturunan

1. mendiang
2. Anak|
3. Cucu
4. cicit, dan
5. canggah / buyut

Upacara ini memiliki beberapa ciri khas yang unik dan sarat akan makna.

Penggunaan Warna Merah.

Berbeda dari pemakaman umum yang identik dengan warna putih, hitam, atau kuning, tradisi ini menggunakan warna merah untuk seluruh perlengkapan duka, peti mati, dan pakaian keluarga.

Peti Mati mendiang tersebut juga di hiasi dengan kain panjang 5 warna sebagai lambang 5 generasi ( ngo tai ). Ini melambangkan kebahagiaan karena mendiang telah mencapai kesempurnaan hidup.

Posisi Canggah / Buyut di Atas Peti.

Saat peti mati diarak atau digotong menuju pemakaman, salah seorang keturunan generasi kelima ( canggah atau buyut ) akan didudukkan di atas peti jenazah dengan mengenakan pakaian merah.

Lalu keluarga berduka berputar mengelilingi peti mati 3x sebagai penghormatan kepada alm / almh sambil memberi angpao kepada canggah / buyut yang duduk di atas peti mati tersebut.

Bebas Masa Berkabung.

Karena pencapaian umur panjang dan generasi yang lengkap dianggap sebagai berkah ( Hao ), keluarga yang ditinggalkan tidak perlu menjalani masa berkabung yang berat ( seperti memakai baju putih atau tidak memotong rambut selama 1 hingga 3 tahun ).

Mungkin di daerah lain bisa saja punya tradisi / kebiasaan yang berbeda.

Gpp.

BERUBAH

Tapi tradisi Ngo Tai tersebut pada masa kini sudah banyak berubah.

Dan tradisi Ngo Tai sekarang sudah jarang dilakukan.

Mendiang yang meninggal baru berusia 60 tahun ke atas sudah boleh memakai baju merah.

Siapa yang membolehkan ???

Yang membolehkan biasanya pengurus rumah duka / kematian.

Trus pihak keluarga ya  hanya menurut karena tidak mengerti.

Sy sendiri berpesan kepada keluarga, kalo belon punya 5 generasi ya tetap memakai :

1. Hio hijau

2. Lilin putih

3. Baju / kaos putih

Trus setelah jenasah dikremasi dan abu dilarung ke laut, maka keluarga mendirikan meja abu leluhur untuk sembahyang :

* Ce it dan Cap Go

* Hari hari Raya

Meja sembahyang tersebut boleh permanent atau temporary / darurat ( pasang dan bongkar sesuai event ).

Gimana kalo Anda ???